Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran baru memasuki hari pertama, namun dinilai sudah memperlihatkan potensi dampak besar bagi Timur Tengah, terutama kawasan Teluk. Dalam tulisan opini oleh Khalid Al-Jaber, konflik ini disebut berisiko mengubah cara negara-negara Teluk memandang keamanan, aliansi, hingga arah ekonomi jangka panjang.
Menurut artikel tersebut, serangan AS–Israel dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran disebut melancarkan serangan tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Oman disebut menjadi sasaran rudal dan drone Iran, meski negara-negara itu dinyatakan tidak melakukan serangan terhadap Iran dari wilayah mereka. Target yang disebut mencakup pangkalan militer AS, bandara, pelabuhan, serta kawasan komersial.
Al-Jaber menilai, bila konflik berlangsung lama, situasi ini dapat menjadi titik balik bagi Teluk. Stabilitas kawasan selama bertahun-tahun, tulisnya, bertumpu pada tiga asumsi utama: Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan, persaingan dengan Iran yang tetap terkendali agar tidak menuju konfrontasi penuh, serta kemampuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk menyediakan koordinasi yang cukup guna mencegah kekacauan politik regional.
Konflik berkepanjangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran dinilai akan menekan ketiga fondasi tersebut sekaligus. Negara-negara Teluk, menurutnya, dapat dipaksa meninjau ulang perencanaan pertahanan dan strategi regional jangka panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia mencatat diplomasi Teluk bergerak hati-hati dan pragmatis, berupaya menghindari pilihan tegas di antara pihak-pihak yang bertikai. Contohnya adalah normalisasi hubungan Saudi–Iran yang difasilitasi China pada 2023, saluran pragmatis Uni Emirat Arab dengan Teheran, peran mediasi Oman, serta Qatar yang mempertahankan pintu dialog terbuka dengan harapan de-eskalasi dapat menurunkan risiko.
Namun, perang yang berkepanjangan dinilai akan menyulitkan strategi keseimbangan ini. Tekanan dari Washington disebut dapat meningkat agar negara-negara Teluk menunjukkan afiliasi yang lebih jelas, sementara opini domestik menuntut kepastian mengenai kepentingan nasional. Dalam situasi yang semakin terpolarisasi, ketidakjelasan strategis, menurut Al-Jaber, berisiko dipersepsikan bukan sebagai fleksibilitas, melainkan kelemahan.
Dari sisi ekonomi, konflik yang terkait Iran dapat kembali menempatkan jalur maritim strategis seperti Selat Hormuz sebagai pusat perhatian ekonomi global. Gangguan, bahkan yang terbatas, disebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, meningkatkan biaya asuransi dan pengiriman, serta menambah kekhawatiran investor.
Ia menilai kenaikan harga minyak dalam jangka pendek memang dapat meningkatkan pendapatan, tetapi volatilitas yang berkepanjangan membawa risiko lain, seperti menakuti investasi jangka panjang, memperumit pembiayaan proyek besar, dan meningkatkan biaya pinjaman. Hal ini dinilai penting karena banyak negara Teluk sedang mempercepat agenda diversifikasi ekonomi.
Dalam jangka panjang, konsumen besar—terutama di Asia—disebut bisa melihat ketidakstabilan berulang sebagai alasan untuk mengurangi ketergantungan pada energi Teluk. Jika terjadi, hal itu dapat mengikis daya tawar kawasan secara perlahan, meski Teluk tetap menjadi pemasok energi utama.
Di tingkat regional, Al-Jaber menyoroti potensi dampak perang terhadap dinamika internal GCC. Menurutnya, krisis dapat mendorong kerja sama lebih dekat atau justru menonjolkan perbedaan. Oman dan Qatar disebut cenderung menghargai mediasi serta saluran komunikasi dengan Teheran. Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab lebih menekankan pencegahan (deterrence), meski keduanya juga berinvestasi pada de-eskalasi dalam periode terakhir. Kuwait digambarkan biasanya mengambil posisi menyeimbangkan secara hati-hati dan menghindari sikap keras.
Jika konflik meningkat secara tak terduga, perbedaan ini dinilai dapat menegangkan koordinasi di dalam GCC. Di sisi lain, krisis juga disebut dapat mendorong kerja sama lebih dalam terkait pertahanan rudal, intelijen, dan keamanan maritim. Arah yang diambil GCC, menurutnya, bergantung pada apakah negara anggota melihat situasi ini sebagai momen persaingan atau kesempatan untuk bersatu.
Al-Jaber juga menilai perang berkepanjangan akan mempercepat pergeseran geopolitik global. China, yang sangat bergantung pada energi Teluk dan konektivitas regional, disebut kemungkinan memperluas jejak diplomatik dan berupaya tampil sebagai mediator. Rusia dinilai dapat memanfaatkan kekacauan untuk meningkatkan penjualan senjata dan memanfaatkan perpecahan regional.
Apabila keterlibatan militer AS semakin dalam sementara kemampuan politik Washington terbatas, negara-negara Teluk disebut dapat menghadapi dilema: semakin bergantung pada dukungan keamanan AS, namun tetap berhati-hati agar tidak terlalu bergantung pada satu patron. Dinamika ini, menurutnya, dapat melahirkan pola baru berupa kerja sama militer dengan AS sambil mempertahankan opsi ekonomi dan diplomatik yang lebih luas.
Lebih jauh, Al-Jaber menekankan perubahan terdalam dari perang berkepanjangan bisa terjadi pada “budaya strategis” negara-negara Teluk. Selama beberapa dekade, kawasan disebut mengutamakan stabilitas, modernisasi, serta manuver geopolitik yang hati-hati. Konflik panjang, tulisnya, dapat memaksa kompromi antara keamanan dan ambisi pembangunan, fleksibilitas diplomatik dan disiplin aliansi, serta keinginan menghindari eskalasi dan kenyataan hidup berdampingan dengan konflik.
Ia menyimpulkan kawasan Teluk kini berada di persimpangan: berpotensi menjadi garis depan konfrontasi besar yang dipengaruhi kekuatan global, atau memanfaatkan modal diplomasi yang sudah ada untuk mendorong de-eskalasi sambil memperkuat pertahanan. Apa pun hasilnya, menurutnya, dampaknya tidak hanya akan membentuk pemikiran keamanan negara-negara Teluk, tetapi juga dapat memengaruhi arsitektur politik kawasan dalam jangka panjang.

