Organisasi Pemeriksa Fakta Beradaptasi dengan Video Pendek, Namun Banyak Tertekan Krisis Keuangan

Organisasi Pemeriksa Fakta Beradaptasi dengan Video Pendek, Namun Banyak Tertekan Krisis Keuangan

Organisasi pemeriksa fakta semakin mengubah strategi penyajian konten untuk mengikuti pergeseran perilaku audiens digital. Lebih dari separuh responden kini berfokus mengemas pemeriksaan fakta dalam format video pendek, sementara sekitar 44,5 persen organisasi menambah materi visual seperti infografis. Di sisi lain, minat audiens terhadap artikel, baik yang pendek maupun panjang, dilaporkan menurun.

Pertumbuhan jumlah pemirsa juga dipengaruhi penerbitan konten dalam beragam bahasa. Pada 2025, sebanyak 60,6 persen organisasi menerbitkan konten multibahasa, naik dari 52,5 persen pada tahun sebelumnya. Perkembangan ini dipandang sebagai sinyal bahwa organisasi cek fakta berupaya cepat beradaptasi dan memperluas jangkauan, sehingga semakin banyak orang terpapar hasil verifikasi.

Namun, peningkatan audiens tidak sejalan dengan kondisi finansial. Sebanyak 76 persen organisasi cek fakta disebut berada dalam kondisi krisis, sedangkan hanya 22,6 persen yang dinilai memiliki model bisnis berkelanjutan. Tekanan tersebut mendorong pemangkasan jumlah pemeriksa fakta secara besar-besaran.

Kelesuan finansial ini muncul setelah 45,3 persen organisasi melaporkan penurunan pendapatan. Salah satu pemicunya adalah langkah Meta menghentikan kerja sama dengan organisasi pemeriksa fakta setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Tantangan lain datang dari meningkatnya represi hukum. Gugatan hukum membayangi 20,4 persen organisasi pada 2025, naik dari 16,4 persen pada tahun sebelumnya. Selain itu, tekanan serta campur tangan otoritas pemerintah juga dilaporkan meningkat.

Perkembangan teknologi akal imitasi turut memengaruhi kerja pemeriksaan fakta. Selain dimanfaatkan sebagai alat bantu, sebanyak 49,6 persen organisasi menyatakan harus menghadapi gempuran deepfake dan media sintetis yang persebarannya melampaui kecepatan verifikasi.

Di tengah maraknya konten berlimpah berkualitas rendah atau AI slop, peran jurnalisme cek fakta dinilai semakin krusial. “Seiring dengan meluasnya penggunaan AI di seluruh dunia, akan ada peningkatan permintaan akan jurnalisme berkualitas tinggi yang diperiksa oleh manusia,” kata Edward Roussel, Kepala Bagian Digital di The Times dan Sunday Times, dalam riset Reuters Institute 2026.

Di sisi lain, kolaborasi antarlembaga menguat sebagai respons atas tantangan yang meningkat. Laporan International Fact-checking Network mencatat 94,9 persen organisasi memperkuat kerja sama yang melibatkan LSM, lembaga akademik, media, hingga perusahaan teknologi. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut menyasar peningkatan literasi digital. Dari 137 organisasi, sebanyak 67,2 persen menyatakan telah menyelenggarakan program literasi media.

Selain kolaborasi, dukungan publik juga disebut dapat membantu keberlanjutan organisasi cek fakta. Bentuk dukungan yang disebut antara lain menyebarkan hasil verifikasi, mempromosikan kerja organisasi kepada kolega, berdonasi, atau berlangganan secara reguler.