Upaya menghentikan perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di satu pihak serta Iran di pihak lain dinilai kian mendesak. Konflik yang terus berlarut-larut dikhawatirkan mempersempit ruang solusi dan memicu dampak geopolitik serta ekonomi yang lebih luas, baik bagi kawasan Asia Barat maupun dunia.
Dalam situasi tersebut, peran negara penengah dianggap krusial. Pakistan disebut memiliki posisi strategis untuk menjadi mediator antara Washington dan Teheran. Salah satu alasannya, Pakistan berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer dan dinilai memiliki tingkat kepercayaan yang cukup tinggi dari Teheran untuk mendorong tercapainya kesepakatan yang dinilai adil.
Di saat yang sama, Pakistan juga disebut memiliki hubungan baik dengan pemerintahan Presiden Donald Trump serta mendapat kepercayaan dari negara-negara Teluk. Kombinasi kedekatan geografis, akses diplomatik, dan relasi dengan berbagai pihak ini dinilai memberi Pakistan keunggulan dalam menjembatani kepentingan yang saling berseberangan.
Meski negara lain seperti China dan Rusia juga dipandang berpotensi membantu meredakan konflik, Pakistan dinilai memiliki nilai tambah pada fase krusial ini. Sejumlah laporan bahkan menyebut Amerika Serikat dan Iran telah menyetujui peran Pakistan sebagai mediator.
Namun, proses mediasi dipandang tidak bebas risiko, terutama ketika pihak-pihak yang bertikai tidak berkomunikasi secara langsung. Sejumlah pertanyaan mengemuka, termasuk apakah Amerika Serikat benar-benar ingin mengakhiri perang atau justru memanfaatkan mediasi untuk mengulur waktu dan memperkuat posisi militernya. Ada pula pertanyaan mengenai sejauh mana Presiden Trump memiliki pengaruh untuk menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar menghentikan operasi militer.
Kekhawatiran lain adalah kemungkinan Israel melanjutkan operasi hingga memperkuat kontrol atas wilayah yang dipersengketakan di Lebanon selatan. Di sisi Iran, muncul pertanyaan apakah Teheran bersedia menerima gencatan senjata jika syarat-syaratnya dianggap tidak adil, mengingat Iran menilai tidak ada dasar kuat bagi Amerika Serikat dan Israel memulai perang selain asumsi bahwa Iran berada dalam kondisi lemah.
Menurut tulisan opini tersebut, respons Iran justru mengejutkan banyak pihak. Disebutkan bahwa setelah kematian pemimpin tertinggi Ali Khamenei, Iran tetap mampu bertahan dan menunjukkan perlawanan militer terhadap Amerika Serikat dan Israel. Posisi Iran juga dinilai menguat setelah menguasai akses di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global. Penutupan jalur ini disebut memberi leverage tambahan bagi Teheran dalam negosiasi.
Pakistan pada saat yang sama dinilai berupaya menjaga keseimbangan diplomatik dengan tetap berkomunikasi dengan semua pihak sambil memperhitungkan kepentingan strategisnya dengan Amerika Serikat dan negara-negara Teluk. Islamabad menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pemimpin Iran, namun juga menyatakan kekhawatiran terkait serangan rudal dan drone Iran ke wilayah Teluk.
Pendekatan yang dinilai seimbang ini disebut membuat Pakistan tetap dipercaya berbagai pihak, dan Iran disebut masih terbuka terhadap peran Islamabad sebagai jembatan diplomasi. Namun, Iran saat ini menolak bernegosiasi langsung dengan Amerika Serikat dan mengajukan prasyarat, termasuk jaminan keamanan terhadap potensi agresi di masa depan. Iran juga menegaskan tidak akan melepaskan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Teheran juga mengusulkan agar Amerika Serikat terlebih dahulu mengumumkan gencatan senjata sepihak serta menarik pasukannya dari kawasan. Selain itu, Iran menuntut kompensasi atas dampak perang, tuntutan yang disebut belum mendapat respons positif dari Washington.
Dengan posisi yang saling bertolak belakang, mempertemukan kedua pihak di meja perundingan dinilai sudah menjadi tantangan besar, apalagi mencapai kesepakatan damai berkelanjutan. Penulis opini menilai penyelesaian permanen juga sulit dicapai tanpa menyentuh akar persoalan yang lebih luas, termasuk isu Palestina.
Karena itu, langkah yang disebut paling realistis saat ini adalah mendorong gencatan senjata segera, meski bersifat sementara. Menurut laporan, proposal gencatan senjata telah disampaikan Amerika Serikat kepada Iran melalui Pakistan. Ini dinilai sebagai awal yang positif, dengan gagasan bahwa gencatan senjata sementara selama satu bulan dapat membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Dengan berbagai keunggulan yang disebut dimilikinya, Pakistan dinilai berpeluang memainkan peran kunci dalam upaya tersebut. Namun, keberhasilannya pada akhirnya bergantung pada kesediaan semua pihak untuk menahan diri sebelum situasi semakin memburuk.

