Di era modern, politik kerap menjadi topik yang sulit dihindari. Media sosial, percakapan sehari-hari, hingga acara keluarga sering dibumbui diskusi politik yang bagi sebagian orang terasa melelahkan.
Bagi mereka yang merasa bosan atau jenuh dengan topik politik yang terus muncul, psikologi memberi gambaran tentang perilaku tertentu yang dapat memperburuk rasa frustrasi. Mengacu pada ulasan Geediting yang dikutip pada Minggu (15/12), ada sejumlah kebiasaan yang disarankan untuk ditinggalkan agar dapat menjauh dari kebisingan politik.
1. Terlalu sering terpapar politik di media sosial
Media sosial menjadi ruang berkumpulnya opini, debat, dan arus informasi politik yang nyaris tidak ada habisnya. Dalam perspektif psikologi, paparan informasi yang berlebihan dapat memicu kelelahan informasi (information fatigue).
Untuk menguranginya, disarankan membatasi waktu menggunakan media sosial atau memanfaatkan fitur mute guna memblokir kata kunci terkait politik.
2. Mengikuti terlalu banyak sumber berita politik
Mengonsumsi berita dari banyak sumber, terutama yang memiliki pandangan berlawanan, dapat membuat seseorang merasa terjebak dalam lingkaran perdebatan yang tidak berujung.
Salah satu cara menyiasatinya adalah memilih satu atau dua sumber berita yang dinilai netral dan membatasi konsumsi informasi penting hanya sekali sehari. Langkah ini dinilai dapat membantu tetap mengikuti perkembangan tanpa merasa kewalahan.
3. Terlibat dalam perdebatan politik di grup chat
Grup chat sering menjadi arena perdebatan politik yang memanas. Dari sudut pandang psikologi, perdebatan semacam ini jarang menghasilkan perubahan pendapat, dan justru cenderung memperkuat bias konfirmasi.

