Sebuah tulisan analisis sastra-filosofis menyoroti puisi Joko Pinurbo berjudul “Doa Orang Sibuk” yang termuat dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong (2020). Tulisan itu, yang ditandatangani Fr. Pankrasius Tevin Lory, berangkat dari pembacaan atas puisi yang menggambarkan pengalaman kehilangan di tengah rutinitas digital.
Puisi tersebut menampilkan seorang “orang sibuk” yang seolah bekerja 24 jam sehari melalui ponselnya. Dalam narasi puitik, ponsel tokoh itu rusak akibat gempa sehingga seluruh nomor kontak hilang. Namun, masih ada satu nomor yang tersisa, yakni “nomor-Mu” yang merujuk pada Tuhan.
Di bagian akhir, puisi menghadirkan respons Tuhan: nomor yang tersisa itu justru “satu-satunya nomor yang tak pernah kausapa.” Melalui dialog singkat ini, puisi menegaskan ironi kehidupan modern: di tengah keterhubungan yang padat melalui gawai, ada relasi yang justru terabaikan.
Dengan latar “bencana digital” berupa rusaknya ponsel dan hilangnya kontak, puisi tersebut memotret momen kesadaran spiritual yang muncul ketika perangkat yang selama ini menjadi pusat aktivitas tiba-tiba tidak berfungsi. Pada saat itulah, yang tersisa bukan sekadar data atau jaringan pertemanan, melainkan pertanyaan tentang prioritas dan kedekatan manusia dengan Tuhan.

