Fenomena alam kerap memancing rasa ingin tahu publik. Namun, di tengah derasnya arus informasi digital, isu-isu terkait sains dan peristiwa bumi juga sering disisipi klaim menyesatkan yang berpotensi menimbulkan kebingungan hingga kekhawatiran.
Kondisi ini membuat sikap kritis dan kebiasaan memverifikasi informasi menjadi penting, terutama ketika sebuah unggahan mengaitkan fenomena alam dengan dampak kesehatan, ancaman bencana, atau peristiwa luar biasa yang belum jelas dasar ilmiahnya.
Sejumlah klaim tentang fenomena bumi yang beredar di media sosial telah ditelusuri oleh Cek Fakta Liputan6.com. Berikut beberapa di antaranya.
Klaim aphelion membuat cuaca lebih dingin dan memicu meriang
Salah satu unggahan Facebook pada 18 Juli 2025 memuat narasi bahwa masyarakat sedang mengalami fenomena aphelion, yakni saat posisi Bumi disebut “sangat jauh dari Matahari”, dan dampaknya diklaim membuat cuaca lebih dingin hingga menyebabkan keluhan seperti meriang, flu, batuk, dan sesak napas. Unggahan itu juga mencantumkan perbandingan jarak Bumi-Matahari serta ajakan menjaga kesehatan.
Klaim tersebut kemudian menjadi bahan penelusuran Cek Fakta Liputan6.com untuk memastikan kebenaran hubungan aphelion dengan penurunan suhu ekstrem dan dampak kesehatan seperti yang disebutkan.
Klaim 8 April Bumi gelap 3 hari karena terhalang foton
Unggahan Facebook lain pada 22 Maret 2024 menyebut bahwa pada 8 April 2024 Bumi akan mengalami kegelapan selama tiga hari karena melewati “sabuk foton”. Dalam narasi itu diklaim tidak akan ada sinar matahari maupun cahaya bulan di permukaan Bumi, disertai anjuran menimbun makanan, air, lilin, dan kebutuhan lain karena panel surya disebut tidak akan menghasilkan energi.
Unggahan tersebut juga menyertakan video yang menampilkan objek bulat dengan latar lebih terang, lalu dilanjutkan objek bulat bercahaya dengan pengantar suara berbahasa Inggris. Klaim ini turut ditelusuri Cek Fakta Liputan6.com.
Klaim video api keluar dari dalam bumi setelah gempa Tuban
Hoaks lain muncul setelah gempa di Tuban. Pada 23 Maret 2024, sebuah akun Facebook mengunggah video yang diklaim memperlihatkan api keluar dari dalam tanah setelah gempa. Video itu menampilkan sejumlah orang menggali tanah berbatu di lahan terbuka, lalu tampak api menyala dan membakar dedaunan. Terdapat pula wawancara berbahasa Jawa, serta narasi pembuka yang menyebut, “Darurat, Indonesia dalam bahaya besar setelah gempa di Tuban tiba-tiba muncul api dari dalam bumi.”
Video tersebut juga menjadi materi penelusuran Cek Fakta Liputan6.com untuk menguji kebenaran konteks dan klaim yang menyertainya.
Deretan contoh di atas menunjukkan bagaimana isu fenomena alam dapat dipelintir menjadi informasi yang menyesatkan. Memahami dasar ilmiah sebuah peristiwa dan memeriksa ulang sumber informasi menjadi langkah penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi.

