Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sasaran informasi palsu yang beredar di media sosial. Sejumlah unggahan di berbagai platform mencatut namanya, mulai dari klaim promo sepeda motor murah hingga pengumuman bantuan dana, serta tangkapan layar artikel yang menyebut mantan Presiden Joko Widodo menyerukan untuk menggulingkan Prabowo.
Salah satu klaim yang beredar di Facebook menyebut Prabowo mengumumkan promo sepeda motor seharga Rp600 ribu. Unggahan yang muncul pada 17 April 2026 itu turut menyertakan narasi yang mengarahkan warganet untuk melakukan pemesanan melalui nomor WhatsApp tertentu, disertai tagar yang mencantumkan nama Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Dalam video yang menyertai unggahan tersebut, terdengar pernyataan seolah-olah Prabowo menegaskan adanya “program promo sepeda motor murah 600.000” di “toko mama gigi” dan menyebut program itu “resmi” dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Namun, berdasarkan penelusuran, video itu merupakan hasil editan menggunakan AI. Video aslinya berasal dari kegiatan Prabowo saat mengikuti debat calon presiden pada Pilpres 2024.
Hoaks lain yang juga beredar di Facebook pada 3 April 2026 menampilkan klaim video Prabowo mengumumkan bantuan dana bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam narasi unggahan tersebut, Prabowo disebut menawarkan bantuan bagi warga yang mengalami kesulitan ekonomi, membutuhkan modal usaha, ingin membayar utang, atau memerlukan biaya sekolah dan kebutuhan lain. Video itu menampilkan sosok Prabowo mengenakan jas serta kopiah hitam.
Selain dua klaim berbentuk video, beredar pula unggahan berupa tangkapan layar artikel yang menyebut mantan Presiden Joko Widodo menyerukan untuk menggulingkan Presiden Prabowo. Postingan itu beredar sejak pekan sebelumnya dan salah satu unggahan ditemukan di platform X pada 6 April 2026. Tangkapan layar tersebut menampilkan judul artikel yang diklaim berasal dari Suara.com: “Geger! Joko Widodo Serukan ‘Gulingkan Prabowo’: Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan”, disertai narasi tambahan dari pengunggah.
Rangkaian klaim tersebut menunjukkan pola pencatutan nama tokoh publik untuk menarik perhatian dan mendorong interaksi pengguna media sosial. Masyarakat diimbau untuk berhati-hati terhadap unggahan yang mengatasnamakan pejabat negara, terutama jika disertai ajakan menghubungi nomor tertentu atau menawarkan bantuan dan promo dengan syarat yang tidak jelas.

