Sejumlah informasi menyesatkan atau hoaks sempat menyasar nama duta besar (dubes) yang bertugas di Indonesia. Konten-konten tersebut beredar di media sosial dengan beragam tema, mulai dari isu diplomasi hingga tuduhan terkait dokumen pendidikan.
Salah satu hoaks yang beredar sejak awal pekan ini menampilkan foto Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, bersama Presiden Prabowo. Dalam unggahan di Facebook pada 4 Maret 2026, narasi yang disertakan menyebut Iran menolak ajakan mediasi Indonesia dengan Amerika Serikat dan meminta Presiden Prabowo lebih baik mengurus rakyat Indonesia yang masih miskin. Unggahan itu juga disertai komentar tambahan bernada sindiran.
Selain itu, beredar pula unggahan video di media sosial yang mengklaim Dubes Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, akan melaporkan Rismon Sianipar ke Mabes Polri terkait tuduhan ijazah palsu. Klaim tersebut muncul dalam unggahan Facebook pada 11 Juni 2025, yang menyatakan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta akan melaporkan pemalsuan ijazah, disertai narasi tambahan yang menyudutkan pihak tertentu.
Hoaks lain yang pernah beredar muncul dalam bentuk artikel di situs Warta-berita.com berjudul “Dubes China Buka Kartu : Tiap Tahun, 2 Juta Lebih Warga Kami Masuk Indonesia” yang diunggah pada 6 Februari 2020. Artikel tersebut memuat kutipan pernyataan Dubes Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Xiao Qian, dalam konteks pembahasan respons terhadap wabah Virus Corona saat itu, termasuk soal pembatasan pergerakan orang, perdagangan, investasi, serta dampaknya. Di dalamnya juga tercantum klaim bahwa setiap tahun ada lebih dari 2 juta warga China masuk ke Indonesia.
Rangkaian contoh tersebut menunjukkan bagaimana nama dan pernyataan para dubes dapat diseret ke dalam narasi yang beredar luas di platform digital, sehingga perlu kehati-hatian saat menerima dan membagikan informasi, terutama yang mengatasnamakan pernyataan resmi pejabat diplomatik.

