Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menyoroti insiden baku tembak yang dilaporkan terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Kemburu, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, dan diduga menewaskan 12 warga sipil. Ia meminta pemerintah bergerak cepat dan transparan untuk mengungkap fakta di balik peristiwa tersebut.
TB Hasanuddin menilai beragam informasi yang beredar di publik hingga kini berpotensi menimbulkan keresahan. Karena itu, ia mendorong pembentukan tim investigasi yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta unsur gabungan termasuk aparat penegak hukum.
“Harus ada tim yang benar-benar turun ke lapangan untuk memastikan apa yang sesungguhnya terjadi. Ini penting agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, tetapi juga tidak memojokkan institusi TNI tanpa dasar yang jelas,” kata TB Hasanuddin, Minggu, 19 April 2026.
Ia menekankan investigasi perlu dilakukan secara objektif dan disertai penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran. Di sisi lain, ia mengingatkan negara juga berkewajiban memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
“Penegakan hukum harus berjalan, tetapi perhatian kepada korban dan keluarganya juga tidak boleh diabaikan. Negara harus hadir memberikan perlindungan dan pendampingan,” ujarnya.
Dalam konteks pengawasan, TB Hasanuddin menyatakan DPR RI, khususnya Komisi I, akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan akuntabilitas operasi di lapangan, termasuk terhadap Satgas Habema. Ia menyebut parlemen akan meminta keterangan dari Panglima TNI serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
TB Hasanuddin berharap penanganan kasus ini dilakukan secara profesional, terbuka, dan berkeadilan agar tidak memperkeruh situasi keamanan di Papua serta tetap menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Hingga kini, insiden kontak tembak yang dilaporkan menyebabkan warga sipil tewas di Kabupaten Puncak disebut belum menemukan titik terang. Dua pihak yang terlibat, yakni TNI dan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), saling menuding terkait penyebab tewasnya warga sipil.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi di dua lokasi, yakni Kampung Kembru di Distrik Kembru dan Kampung Jigunggi di Distrik Mageabume, pada Selasa (14/4/2026). Dari kedua insiden itu, jumlah korban jiwa masih belum pasti.

