Pergantian vokalis Nidji pada 2019 sempat memecah respons penggemar. Sebagian menerima kehadiran Muhammad Yusuf Nur Ubay atau Ubay, namun tidak sedikit yang masih sulit lepas dari sosok Giring Ganesha.
Ubay mengakui situasi pro-kontra tersebut sempat membuatnya bimbang. Ia memahami penolakan dari sebagian penggemar tak terhindarkan, mengingat Nidji telah membangun jejak karya selama dua dekade.
“Dulu sering sih, sering banget kalau lihat komentar di YouTube, Instagram, atau sekarang di TikTok. Selama setahun-dua tahun tuh kayak, ini bener gak ya gue di sini, gue ini blend in gak sih sama anak-anak,” ujar Ubay saat perayaan anniversary satu tahun album Nidji Manifestasi di Halte Transjakarta Tosari, Jakarta Pusat, jelang akhir pekan ini.
Menurut Ubay, sejak resmi bergabung ia menyadari proses penyesuaian tidak bisa berlangsung instan. Ia juga sempat merasa geram menghadapi komentar-komentar yang ia anggap jahat.
Namun seiring waktu, Ubay memilih mencoba memahami latar belakang orang-orang yang melontarkan komentar negatif. “Akhirnya gue coba mengerti, mungkin orang-orang itu lagi capek, lagi ada masalah. Jadi gue memilih buat nerima aja,” ungkapnya.
Kini, Ubay mengatakan ia lebih memilih fokus berkarya bersama Nidji dan tidak lagi menghabiskan energi memikirkan komentar negatif. Ia menilai posisinya di band tersebut sebagai jalan yang diberikan Tuhan agar ia bisa terus bermusik dalam jangka panjang, sekaligus bagian dari manifestasi yang ia yakini selama ini.
“Gue pengennya bukan cuma setahun-dua tahun. Sekarang kita udah jalan enam tahun, gue pengennya 10 tahun ke depan sampai akhir hayat masih bermusik,” ucapnya.

