Serangan dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Israel disebut meluncurkan serangan pada siang hari yang memicu kepulan asap terlihat membumbung dari kawasan pusat kota.
Sejumlah saksi mata di Teheran melaporkan mendengar ledakan saat serangan berlangsung. Televisi pemerintah Iran juga memberitakan adanya ledakan, namun tidak menyebutkan penyebabnya.
Di tengah sorotan terhadap situasi tersebut, Iran tercatat beberapa kali menjadi sasaran informasi keliru atau hoaks yang beredar di media sosial. Berikut sejumlah klaim yang sempat beredar dan telah dikategorikan sebagai hoaks:
1. Video yang diklaim menunjukkan rudal balistik Iran siap menyerang Israel
Sebuah video berdurasi 18 detik beredar di media sosial dengan narasi “Rudal balistik Iran siap ratakan Israel.” Unggahan itu disebut beredar sejak awal pekan dan salah satunya diposting akun Facebook pada 6 Juli 2025. Dalam keterangan unggahan, akun tersebut juga menuliskan narasi mengenai “kecanggihan rudal balistik Iran” yang diklaim siap meluluhlantakkan musuh. Klaim tersebut dinyatakan tidak benar.
2. Foto yang diklaim memperlihatkan pilot wanita Israel menjadi tahanan Iran
Di media sosial juga beredar foto seorang perempuan yang berdiri di depan pesawat, dengan tangan terlipat di dada dan tersenyum. Foto tersebut diunggah salah satu akun Facebook pada 14 Juni 2025 dan diklaim sebagai pilot wanita asal Israel bernama Sarah Ahronot yang disebut telah ditangkap dan menjadi tahanan Iran. Narasi yang menyertai unggahan itu menyatakan Iran memiliki “aset Yahudi” dalam tahanan mereka. Klaim tersebut dinyatakan tidak benar.
3. Artikel yang mengklaim MUI mendukung serangan Israel ke Iran
Hoaks lain yang beredar berupa unggahan cuplikan layar artikel yang mengatasnamakan Kumparan.com dengan judul “MUI Dukung Serangan Israel ke Iran: Syiah Bukan Islam, Syiah Adalah Kafir Yang Halal Dimusnahkan.” Unggahan itu disebut beredar sejak pertengahan pekan dan salah satunya diposting akun Facebook pada 19 Juni 2025, disertai komentar bernada ejekan. Klaim tersebut dinyatakan sebagai hoaks.
Rangkaian informasi keliru tersebut menunjukkan bagaimana isu terkait Iran kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan konten menyesatkan di media sosial, terutama saat situasi geopolitik memanas dan perhatian publik meningkat.

