Rencana pengiriman 8.000 pasukan perdamaian asal Indonesia kembali menjadi sorotan setelah muncul tudingan bahwa langkah tersebut merupakan upaya pendudukan di Rafah, Palestina. Pernyataan itu disampaikan peneliti senior Imparsial sekaligus Ketua Centra Initiative, Al Araf, dalam diskusi bertajuk Bahaya di Balik Perjanjian Dagang USA-Indonesia dan Board of Peace: Imperialisme Gaya Baru? pada Rabu (25/2).
Dalam diskusi itu, Al Araf menilai misi pengiriman pasukan tidak jelas dan menyebutnya bukan dalam konteks kemerdekaan Palestina, melainkan mengarah pada pendudukan. Ia juga menyatakan misi tersebut seolah melanjutkan apa yang dilakukan Israel Defense Forces (IDF).
Namun, narasi yang mengaitkan pengiriman pasukan Indonesia dengan upaya pendudukan disebut tidak berdasar. Berdasarkan keterangan pada akun Cek Fakta RI @cekfakta.ri, tugas pasukan perdamaian Indonesia bukan untuk berperang, melainkan menjalankan mandat kemanusiaan dan menjaga stabilitas sesuai hukum internasional.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa 8.000 pasukan perdamaian Indonesia akan bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) untuk berpartisipasi dalam misi perdamaian di Gaza, Palestina. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) pada Kamis (19/2) di Washington DC, Amerika Serikat, yang juga dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta para pemimpin negara lainnya.
Menteri Luar Negeri Sugiono turut memastikan bahwa Palestina telah mengetahui rencana keterlibatan Indonesia dalam ISF. Menurut Sugiono, partisipasi Indonesia ditujukan untuk menstabilkan lingkungan sipil di Gaza. Rencana tersebut, kata dia, juga diketahui Ketua National Committee for Administration of Gaza (NCAG) Ali Shaath yang hadir dalam pertemuan perdana BoP.
Sugiono menyatakan Palestina tidak hanya mengetahui partisipasi Indonesia, tetapi juga memahami rencana dan mandat ISF selama bertugas di Gaza. Ia menegaskan Indonesia tidak akan terlibat dalam pelucutan senjata maupun operasi militer ofensif, melainkan akan fokus menjaga stabilitas sipil dan mendukung upaya kemanusiaan.
Menurut Sugiono, misi Indonesia di ISF juga disebut selaras dengan kepentingan Palestina. Dalam pertemuan BoP, Shaath menyampaikan bahwa Palestina membutuhkan situasi yang aman dan stabil sebagai prasyarat pemulihan dan proses perdamaian di Gaza.
“Langkah pertama dari rencana komprehensif ini adalah ceasefire atau gencatan senjata. Setelah itu, diciptakan suasana yang aman dan stabil, baru tahapan-tahapan berikutnya dapat dijalankan. Dan itu juga kemarin sudah disampaikan,” ujar Sugiono.

