MAGELANG – Di tengah pandemi Covid-19, komunitas Santri Lomo dari Desa Tanggulangin, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, melakukan aksi sosial dengan membagikan sayuran hasil tani kepada warga yang terdampak. Program yang dinamakan "Sodaqoh Sayur" ini menjadi salah satu upaya komunitas tersebut untuk membantu meringankan beban masyarakat selama masa sulit ini.
Sugianto, Koordinator Santri Lomo, menjelaskan bahwa berbagai jenis sayuran yang dibagikan meliputi kol, sawi, wortel, cabai, kacang panjang, dan lainnya. Sayuran tersebut dibungkus dalam tas kresek dan didistribusikan secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang.
"Kami tidak memandang siapa yang menerima, siapa pun yang membutuhkan bisa mengambil," ujar Sugianto saat ditemui di sela pembagian sayur di Blondo, Mungkid, Kabupaten Magelang, Jumat (8/5/2020).
Kegiatan sodaqoh sayur ini telah berlangsung selama lima hari terakhir, dengan jumlah sekitar 500 paket sayur yang diangkut setiap hari menggunakan dua mobil pick up. Inisiatif ini muncul karena komunitas melihat banyak warga yang terdampak pandemi, sementara mereka memiliki hasil pertanian yang bisa disalurkan.
"Karena kami penghasil sayur, maka sayur ini yang kami sedekahkan," tambah Sugianto.
Sayuran yang dibagikan merupakan donasi dari warga Desa Tanggulangin, tidak hanya dalam bentuk sayur, tetapi juga sembako dan uang. Donasi uang kemudian digunakan untuk membeli sayuran dan perlengkapan pembungkus seperti tas kresek.
Distribusi sodaqoh sayur tidak terbatas hanya di Kabupaten Magelang, tetapi juga menjangkau Kota Magelang dan Salatiga.
Sejarah dan Profil Komunitas Santri Lomo
Komunitas Santri Lomo terdiri dari 25 anggota pria. Nama "Lomo" berasal dari bahasa Jawa yang berarti dermawan sekaligus singkatan dari "Loro" dan "Limo" (dua puluh lima), sesuai jumlah anggota komunitas.
Santri Lomo terbentuk pada 5 Februari 2012. Awalnya, komunitas ini fokus pada penyewaan peralatan seperti kompor gas, timbangan sayur, barang pecah belah, lampu, dan tanki sprayer. Dana yang digunakan berasal dari iuran anggota sebesar Rp 5 ribu per bulan serta hasil sewa barang.
Seiring waktu, komunitas ini mampu mengumpulkan dana yang juga digunakan untuk kegiatan sosial dan rekreasi bersama anggota.
Ketua komunitas, Ustadz Sarbini, memimpin inisiatif membantu warga terdampak pandemi saat ini. Santri Lomo terinspirasi oleh Dusun Ndeles yang lebih dulu menyalurkan donasi sayur melalui program "Barokah Sayur".
Sugianto menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan sodaqoh sayur selama situasi memungkinkan. Harapan komunitas adalah agar kegiatan ini dapat membantu sesama dan mendapat keberkahan dari Tuhan.