Sejumlah pengamat menilai pendekatan keamanan nasional Israel yang kian mengandalkan langkah militer ekspansionis memunculkan pertanyaan mendasar: apakah strategi tersebut benar-benar memperkuat keamanan, atau justru menjauhkan kawasan dari peluang perdamaian jangka panjang.
Profesor Wang Yiwei dari Renmin University of China, dalam refleksinya yang dikutip The China Academy, menyebut Israel telah melakukan dua kesalahan strategis besar. Pertama, terlalu mengandalkan kekuatan militer ketimbang diplomasi dalam merespons ketegangan regional. Kedua, menetapkan tujuan politik yang dinilainya mustahil, seperti perubahan rezim di Iran.
Wang menekankan keterbatasan geografis dan demografis Israel sebagai faktor penting dalam perhitungan strategis. Dengan populasi kurang dari 10 juta jiwa, Israel dinilai tidak memiliki ruang yang cukup untuk terlibat dalam konflik berkepanjangan, terlebih menghadapi negara-negara Arab yang secara kolektif memiliki populasi lebih dari 1 miliar.
Menurut Wang, alih-alih menempuh jalur diplomasi untuk membangun stabilitas jangka panjang, Israel cenderung memilih pendekatan militeristik yang agresif. Salah satu contoh yang disorot adalah serangan preemptif terhadap Iran dengan alasan ancaman nuklir.
Namun laporan The New York Times pada 19 Juni 2025 menyebutkan bahwa meski Iran memiliki uranium yang cukup untuk membuat bom, intelijen Amerika Serikat mengindikasikan negara itu belum mengambil keputusan untuk membangun senjata nuklir. Dalam konteks ini, Wang menilai tekanan atau agresi eksternal terhadap Iran justru berpotensi menjadi pemicu bagi pengambilan keputusan tersebut.
Di sisi lain, Israel disebut tidak pernah mengakui secara resmi kepemilikan senjata nuklir. Meski demikian, laporan The Times serta pengakuan Mordechai Vanunu pada 1986 kerap dikutip sebagai dasar dugaan bahwa Israel memiliki sekitar 80 hingga 200 hulu ledak nuklir.
Analisis tersebut menempatkan pilihan strategi Israel—antara jalur militer dan diplomasi—sebagai isu sentral yang dinilai akan memengaruhi stabilitas kawasan dan prospek perdamaian yang berkelanjutan.

