Arus informasi di era digital dinilai tidak lagi mengalir secara netral. Informasi kini disaring, dipilah, dan diarahkan oleh algoritma—mekanisme matematis di balik platform digital yang menentukan apa yang pengguna lihat, baca, dan pada akhirnya percayai. Dalam keseharian, algoritma ikut memengaruhi berita apa yang muncul di beranda, isu apa yang dianggap penting, hingga emosi apa yang dibangkitkan.
Dalam situasi tersebut, Pancasila disebut tidak sedang berhadapan dengan ideologi lain secara frontal, melainkan menghadapi ujian yang bekerja senyap di ruang digital. Pertanyaannya, apakah Pancasila mampu bertahan sebagai kerangka etis ketika logika algoritmik cenderung mengutamakan atensi, emosi, dan keterbelahan.
Ujian itu dinilai semakin nyata dalam konteks demokrasi elektoral. Pemilu tidak hanya ditentukan oleh adu gagasan dan rekam jejak kandidat, tetapi juga oleh bagaimana perhatian publik dikelola di ruang digital. Kampanye politik memanfaatkan media sosial, analisis data, dan kecerdasan artifisial (AI) untuk memproduksi pesan secara masif dan terpersonalisasi. Sejumlah laporan lembaga internasional juga menunjukkan praktik micro-targeting politik berbasis data personal telah menjadi fenomena global, dengan risiko manipulasi persepsi pemilih yang sulit terdeteksi secara kasat mata.
Algoritma media sosial pada dasarnya dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Sejumlah temuan riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science menyebut konten bermuatan emosi—terutama kemarahan dan ketakutan—menyebar lebih cepat dibandingkan informasi faktual yang netral. Logika ini mendorong komunikasi politik yang sensasional dan simplistis, sekaligus membuat ruang publik digital semakin terfragmentasi.
Fragmentasi tersebut tampak ketika individu terkurung dalam echo chamber, yakni ruang interaksi yang didominasi pandangan serupa dan terus mengafirmasi keyakinan sendiri. Cass Sunstein mengingatkan kondisi ini berbahaya bagi demokrasi karena warga tidak lagi berbagi kerangka fakta yang sama sebagai dasar diskusi publik.
Seiring itu, fragmentasi berkelindan dengan polarisasi politik dan sosial. Algoritma disebut tidak menciptakan perbedaan, namun memperdalam dan memperkerasnya. Riset Iyengar dan koleganya menunjukkan polarisasi kontemporer tidak lagi semata perbedaan ideologi, melainkan polarisasi afektif—perasaan tidak suka, curiga, bahkan benci terhadap kelompok lain.
Dalam konteks pemilu, lawan politik menjadi mudah dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial, bukan sebagai sesama warga negara yang sah. Demokrasi pun berisiko bergeser dari ruang deliberasi menuju arena konflik emosional yang terus direproduksi oleh mesin algoritmik. Di titik inilah, banalitas kebenaran menemukan momentumnya.

