Pengetahuan Lokal Dinilai Jadi Pembeda Utama untuk Karier di Organisasi Internasional

Pengetahuan Lokal Dinilai Jadi Pembeda Utama untuk Karier di Organisasi Internasional

Pemahaman mendalam terhadap isu-isu lokal disebut menjadi salah satu nilai paling dicari dalam persaingan karier di tingkat internasional. Keunikan konteks daerah yang kerap luput dari perhatian mahasiswa justru dinilai dapat menjadi faktor pembeda dalam proses seleksi di lembaga multilateral maupun organisasi kemanusiaan.

Pandangan tersebut disampaikan Political Specialist Kedutaan Besar Amerika Serikat, Fikri Pido, dalam kuliah praktisi bertema Membangun Jejaring Karir: Frontline Negotiation for Beginner pada Kamis (27/11). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Amphitheater Gedung E6, K.H Ibrahim UMY itu diselenggarakan oleh Pusat Studi Kemamanan Internasional UMY.

Fikri menilai banyak mahasiswa Hubungan Internasional (HI) memahami isu global, tetapi kurang mendalami persoalan di tingkat lokal. Padahal, menurutnya, kemampuan menjelaskan daerah seperti Aceh, Papua, atau Toraja secara rinci dapat lebih menarik bagi organisasi internasional dibanding sekadar mengulang pembahasan isu global yang sudah umum.

Ia mengatakan, lembaga internasional kini tidak hanya mencari kandidat yang menguasai teori hubungan internasional, tetapi juga mereka yang mampu mengaitkan fenomena global dengan realitas sosial di tingkat lokal. Fikri mencontohkan isu lingkungan, perubahan iklim, hingga konflik yang dinilainya tidak dapat dianalisis secara komprehensif tanpa memahami sejarah, budaya, dan dinamika masyarakat setempat.

Menurut Fikri, wawasan kelokalan juga tidak cukup dibangun melalui literatur. Mahasiswa perlu terjun langsung ke lapangan melalui kegiatan volunteering, penelitian komunitas, atau keterlibatan sosial lainnya. Interaksi dengan masyarakat, katanya, dapat membentuk empati dan ketangguhan emosional yang penting dalam pekerjaan kemanusiaan.

Ia menambahkan, kemampuan melihat keterhubungan antara isu lokal dan global turut menentukan. “Interconnectivity itu penting. Ketika kalian mampu melihat hubungan antara isu lokal dan global, organisasi internasional akan melihat kalian sebagai kandidat yang memiliki depth, bukan sekadar pengetahuan permukaan,” ujarnya.

Selain pengetahuan kelokalan, Fikri menyebut organisasi internasional juga membutuhkan kandidat dengan pemahaman multisektoral. Kemampuan melihat hubungan antara pemerintah, NGO, dan sektor bisnis dinilainya menjadi kunci dalam meniti karier global.

Alumni HI UMY itu juga mendorong mahasiswa untuk tidak ragu menonjolkan identitas lokal dalam forum global. Latar belakang budaya, pengalaman daerah, serta pemahaman terhadap isu-isu lokal disebutnya sebagai modal yang jarang dimiliki kandidat dari negara lain.

“Do not underestimate your local knowledge. Dari mana pun kalian berasal, kuasai konteksnya. Itulah yang membuat kalian berbeda dan bernilai di dunia internasional,” pungkasnya.