Catatan dari London (5)

Catatan dari London (5)

IA PUN MUNDUR SEBAGAI RAJA DEMI PEREMPUAN YANG DICINTAINYA

Oleh Denny JA

Tangan itu sempat bergetar ketika menggenggam pena. Di atas meja kayu terbentang beberapa lembar dokumen kerajaan. Di luar jendela, musim dingin menyelimuti Inggris dengan langit kelabu yang nyaris tanpa cahaya.

Beberapa menit ke depan, ia tidak lagi menjadi raja. Tidak ada dentuman meriam. Tidak ada pemberontakan. Tidak ada darah yang tertumpah. Yang hadir hanyalah kesunyian yang terasa jauh lebih menggetarkan daripada hiruk pikuk peperangan.

Dalam kesunyian itulah sejarah kadang mengambil keputusan yang paling dahsyat. Beberapa goresan tinta mengakhiri sebuah pemerintahan yang baru berlangsung sebelas bulan, tetapi sekaligus melahirkan kisah yang terus dikenang dunia.

Sejak hari itu, sebuah pertanyaan terus menggema melintasi zaman. Jika cinta dan kekuasaan datang bersamaan, tetapi manusia hanya boleh memilih satu, pilihan apakah yang paling layak dipertahankan?

-000-

Sudah hampir lima abad St James’s Palace berdiri tenang di jantung London. Istana ini dibangun atas perintah Raja Henry VIII antara tahun 1531 hingga 1536 di lokasi bekas rumah sakit Santo Yakobus.

Dari luar, bangunannya tampak jauh lebih sederhana dibandingkan Buckingham Palace. Namun dalam sejarah Inggris, justru di sinilah denyut konstitusi kerajaan berulang kali berdetak dan menentukan arah perjalanan monarki.

Hingga hari ini, berbagai upacara resmi, penerimaan duta besar, dan Proclamation Council masih berlangsung di kompleks istana ini. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi hidup perjalanan panjang sebuah bangsa.

Saya berdiri cukup lama di depan gerbang bata merahnya. Wisatawan berlalu lalang, kendaraan melintas tanpa henti, dan burung merpati sesekali turun di halaman yang tenang.

Namun batin saya justru dipenuhi kesunyian. Bangunan tua memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia. Ia tidak pernah lupa kepada kemenangan, pengkhianatan, air mata, maupun keputusan yang mengubah sejarah.

Di tempat inilah, pada 21 Januari 1936, Edward VIII diproklamasikan sebagai Raja Britania Raya setelah wafatnya George V. Ia masih berusia empat puluh satu tahun dan dipandang sebagai simbol generasi baru monarki Inggris.

Edward tampan, populer, dan modern. Banyak rakyat berharap ia akan membawa kerajaan memasuki babak baru yang lebih segar. Harapan itu ternyata hanya bertahan selama sebelas bulan.

Semua bermula dari seorang perempuan Amerika bernama Wallis Simpson. Edward mengenalnya pada awal dekade 1930-an melalui lingkungan sosial aristokrat London, lalu perlahan menjadikan perempuan itu pusat kehidupannya.

Wallis bukan bangsawan dan tidak memiliki darah kerajaan. Namun ia memiliki kecerdasan, kehangatan, dan kemampuan membuat calon raja merasa diterima sebagai manusia biasa, bukan sekadar simbol negara.

Masalahnya bukan karena Wallis berasal dari Amerika. Persoalan utamanya adalah ia telah dua kali menikah, dan proses perceraian keduanya belum sepenuhnya selesai ketika Edward menjadi raja.

Pada masa itu, Raja Inggris juga menjabat sebagai Supreme Governor of the Church of England. Gereja tersebut tidak mengizinkan raja menikahi seseorang yang telah bercerai apabila mantan pasangannya masih hidup.

-000-

Persoalan pribadi itu segera berubah menjadi krisis konstitusional. Perdana Menteri Stanley Baldwin menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mendukung pernikahan tersebut, dan negara-negara Dominion pun mengambil sikap yang sama.

Pilihan Edward tinggal dua. Tetap menjadi raja dengan meninggalkan Wallis, atau menikahi Wallis dengan meninggalkan mahkota. Tidak ada jalan ketiga yang dapat diterima secara konstitusional.

Malam sebelum menandatangani surat itu, Edward hampir tidak tidur. Di mejanya terdapat dua benda yang sama-sama berat: mahkota kerajaan yang tak terlihat, dan foto Wallis yang selalu ia simpan.

Seorang raja ternyata juga dapat menjadi laki-laki yang takut kehilangan perempuan yang dicintainya.

Edward memilih kemungkinan kedua. Pada 10 Desember 1936 ia menandatangani Instrumen Abdikasi, mengundurkan diri sebagai raja.

Keesokan harinya, jutaan rakyat Inggris mendengarkan pidato radionya yang kemudian menjadi bagian dari sejarah dunia.

“Saya merasa mustahil memikul tanggung jawab sebagai raja tanpa bantuan dan dukungan perempuan yang saya cintai.” Kalimat itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi gaungnya masih terdengar hingga hari ini.

Sejak saat itu, sejarah Inggris berubah. Adiknya naik takhta sebagai George VI, dan dari garis suksesi itulah kelak lahir pemerintahan Elizabeth II yang berlangsung selama tujuh puluh tahun.

Abdikasi itu tidak hanya mengubah nasib Edward. Ia mengubah seluruh garis suksesi kerajaan Inggris. Dari keputusan itulah lahir pemerintahan George VI, kemudian Elizabeth II, dan pada akhirnya Raja Charles III.

Sulit membayangkan bahwa perubahan sebesar itu bermula dari keputusan seorang laki-laki terhadap perempuan yang dicintainya. Kadang sejarah ternyata tidak digerakkan oleh meriam, melainkan oleh hati manusia.

-000-

Sejak hari itu saya mulai memahami bahwa hidup tidak pernah meminta kita memilih antara yang baik dan yang buruk. Hidup justru sering meminta kita memilih dua hal yang sama-sama berharga.

Inspirasi dari kisah Edward VIII adalah kenyataan bahwa setiap pilihan besar selalu meminta harga yang besar pula. Tidak ada keputusan yang sungguh bermakna tanpa pengorbanan yang sepadan.

Banyak orang berharap dapat memiliki cinta, kekuasaan, kehormatan, dan kebebasan sekaligus. Namun kehidupan hampir tidak pernah bekerja seperti itu. Setiap pilihan selalu membawa sesuatu yang harus dilepaskan.

Edward memperoleh perempuan yang dicintainya, tetapi kehilangan mahkota, peran sejarah, dan kedekatan dengan keluarganya. Andaikata ia mempertahankan takhta, mungkin ia kehilangan cinta yang memberinya makna hidup.

Kedewasaan bukanlah kemampuan menemukan pilihan tanpa luka. Kedewasaan adalah keberanian menerima harga dari pilihan yang diyakini, lalu memikul seluruh konsekuensinya tanpa menyalahkan nasib.

Juga kekuasaan bukan selalu nilai tertinggi dalam kehidupan manusia. Banyak orang rela mengorbankan keluarga, sahabat, bahkan nurani demi mempertahankan jabatan yang mereka miliki.

Edward memilih arah yang berlawanan. Kita boleh menganggap keputusannya keliru, tetapi kisahnya memaksa kita bertanya apakah jabatan tetap bernilai apabila seseorang harus mengkhianati suara hatinya sendiri.

Tidak semua orang akan memberikan jawaban yang sama. Justru di sanalah letak kemanusiaan. Nilai tertinggi setiap manusia ternyata tidak selalu identik, meskipun mereka hidup dalam zaman yang sama.

Inspirasi lain: keputusan pribadi dapat mengubah sejarah dunia. Kita sering mengira sejarah hanya berubah oleh perang, revolusi, atau penemuan teknologi yang besar.

Padahal berkali-kali sejarah bergerak karena keputusan yang lahir dalam ruang yang sunyi. Keputusan Martin Luther, Rosa Parks, Mahatma Gandhi, dan Edward VIII semuanya berawal dari pilihan seorang manusia.

Sejarah ternyata adalah kumpulan keputusan pribadi yang akibatnya melampaui kehidupan pribadi itu sendiri. Karena itulah, tidak ada keputusan yang benar-benar kecil apabila diambil dengan keberanian dan keyakinan.

-000-

Ketika saya meninggalkan St James’s Palace, saya tidak segera mencari kafe atau toko suvenir. Saya justru berjalan perlahan menyusuri trotoar London yang basah oleh gerimis musim panas.

Entah mengapa, kisah Edward VIII membawa saya kepada pertanyaan yang sangat pribadi. Dalam hidup ini, apa sebenarnya mahkota yang selama ini kita perjuangkan dengan begitu keras?

Ada orang yang mahkotanya adalah jabatan. Ada yang mengejar kekayaan. Ada pula yang membangun nama besar selama puluhan tahun, seolah itulah ukuran akhir keberhasilan hidup.

Saya sendiri pernah berada pada persimpangan ketika berbagai kesempatan datang bersamaan. Semakin bertambah usia, saya justru belajar bahwa keberhasilan tidak selalu berarti memperoleh lebih banyak.

Kadang keberhasilan berarti mengetahui apa yang harus dilepaskan agar kita tetap menjadi diri sendiri. Tidak semua kehilangan adalah kegagalan. Sebagian kehilangan justru menyelamatkan kita dari kehilangan yang lebih besar.

Di depan istana tua itu saya memahami satu hal. Manusia tidak benar-benar diuji ketika memperoleh segala sesuatu, melainkan ketika harus memilih apa yang paling layak dipertahankan.

-000-

Renungan di trotoar London itu tidak berhenti sebagai getaran sesaat di dalam batin. Ia membawa saya kembali kepada jejak tertulis sejarah, seolah hati perlu diuji oleh fakta agar perasaan tidak berubah menjadi legenda.

Karena itu, saya menelusuri dua buku yang memandang kisah Edward VIII dari arah berbeda: satu lahir dari suara seorang raja yang kehilangan mahkotanya, satu lagi dari mata sejarah yang membongkar harga tersembunyi di balik cinta tersebut.

Dua buku ini menambah wawasan kita untuk memahami kisah di atas. Buku pertama berjudul A King’s Story, ditulis oleh Edward VIII sendiri, 1951.

Tidak ada buku yang lebih dekat kepada pergulatan batin Edward VIII selain memoarnya sendiri. Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengakuan seorang manusia yang pernah berada di puncak kekuasaan dunia.

Edward menjelaskan bagaimana ia memandang tugas kerajaan, bagaimana cintanya kepada Wallis tumbuh, dan mengapa ia merasa mustahil memisahkan kehidupan pribadinya dari tanggung jawab sebagai raja.

Dalam memoarnya Edward VIII menulis dengan jujur: “Sementara itu telah terjadi sesuatu yang, meski tidak saya sadari saat itu, ditakdirkan mengubah seluruh arah hidup saya. Saya bertemu Wallis Warfield Simpson.” Satu kalimat sederhana, namun di dalamnya bersembunyi mahkota yang kelak ia lepaskan.

Pembaca memang perlu menyadari bahwa setiap memoar mengandung sudut pandang penulisnya sendiri. Namun justru di situlah nilai utamanya, karena kita melihat manusia di balik simbol mahkota.

Buku ini mengajarkan bahwa sejarah besar sering kali lahir dari pergulatan batin yang sangat pribadi. Sebelum mengubah arah bangsa, seseorang biasanya lebih dahulu bergulat dengan dirinya sendiri.

-000-

Buku kedua judulnya Traitor King: The Scandalous Exile of the Duke and Duchess of Windsor. Ia ditulis oleh
Andrew Lownie, 2021.

Buku ini memberikan keseimbangan yang sangat penting. Jika memoar Edward berbicara dari dalam dirinya, Andrew Lownie berbicara melalui arsip, surat pribadi, dan dokumen sejarah yang sangat kaya.

Lownie menunjukkan bahwa kehidupan Edward dan Wallis setelah abdikasi jauh lebih rumit daripada legenda romantis yang dipercaya publik selama puluhan tahun. Mereka memang tetap hidup bersama hingga akhir hayat Edward.

Namun mereka juga mengalami pengasingan sosial, hubungan yang renggang dengan keluarga kerajaan. Bayang-bayang kontroversi politik menjelang Perang Dunia Kedua yang terus membayangi kehidupan mereka.

Buku ini mengingatkan bahwa cinta dapat menjadi alasan seseorang mengambil keputusan besar. Namun cinta tidak pernah menghapus seluruh konsekuensi yang mengikuti keputusan tersebut.

-000-

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa terlalu sederhana jika mengatakan Edward VIII turun takhta hanya karena cinta. Mereka mengingatkan bahwa ia sejak lama memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan pemerintah dan kurang menikmati berbagai kewajiban kerajaan.

Sebagian peneliti juga menunjuk pandangan politik Edward yang kemudian hari dinilai kontroversial, terutama sikapnya terhadap Jerman pada akhir dekade 1930-an. Semua itu memang merupakan bagian penting dari konteks sejarahnya.

Namun konteks berbeda dengan penyebab langsung. Krisis konstitusional tahun 1936 pecah karena keputusannya menikahi Wallis Simpson. Tanpa persoalan itu, tidak ada alasan hukum dan politik yang memaksanya turun takhta pada saat tersebut.

Karena itu, cinta memang bukan satu-satunya latar belakang kehidupan Edward. Namun berdasarkan konsensus sejarah, cinta tetap merupakan penyebab utama yang membawa kerajaan Inggris memasuki babak baru.

-000-

Saya meninggalkan St James’s Palace dengan langkah yang lebih pelan daripada ketika datang. Bukan karena istana itu lebih megah daripada bayangan saya, melainkan karena saya pulang membawa pertanyaan yang lebih besar daripada sebelumnya.

Tidak semua orang akan diminta memilih antara mahkota dan cinta. Namun setiap manusia pada akhirnya akan diminta memilih antara apa yang tampak paling gemilang dan apa yang sungguh memberi makna bagi hidupnya.

Sejarah akhirnya tidak mengingat Edward VIII semata karena ia pernah menjadi raja. Sejarah mengingatnya karena ia berani memikul seluruh konsekuensi dari pilihan yang dibuatnya sendiri.

Pada akhirnya, ukuran hidup bukanlah seberapa tinggi mahkota yang pernah kita kenakan, melainkan seberapa jujur hati yang tetap kita pertahankan ketika mahkota itu harus kita lepaskan.***

London, 26 Juli 2026

Referensi

1. Edward VIII. A King’s Story. Cassell, 1951.
2. Andrew Lownie. Traitor King: The Scandalous Exile of the Duke and Duchess of Windsor. Blink Publishing, 2021.