Nilai tukar rupiah bergerak melemah secara terukur pada perdagangan Kamis siang menjelang sesi Eropa, setelah pelaku pasar mencerna sikap netral Bank Indonesia (BI) yang disampaikan sehari sebelumnya. Pasangan USD/IDR diperdagangkan di kisaran 16.730–16.735, mendekati batas atas zona konsolidasi yang terbentuk sejak awal November, mengindikasikan ruang gerak rupiah masih terbatas.
Secara teknikal, area 16.700–16.720 disebut menjadi penopang (support) jangka pendek yang beberapa kali menahan koreksi USD/IDR. Selama zona ini bertahan, penguatan rupiah dinilai tidak leluasa. Sementara di sisi atas, kisaran 16.750–16.780 menjadi resistance terdekat yang dalam beberapa pekan terakhir kerap memicu aksi jual dolar. Jika terjadi penembusan yang tegas di atas area tersebut, pasar membuka kemungkinan uji lanjutan ke 16.820–16.850, meski skenario ini dinilai masih sangat bergantung pada faktor eksternal.
Dari sisi global, pergerakan rupiah turut dipengaruhi stabilisasi Indeks Dolar AS (DXY). Meski masih berada dalam tren turun menengah, DXY terlihat menahan penurunan di area 98,2–98,3. Kondisi ini membuat tekanan pelemahan rupiah tetap terkendali, namun sekaligus membatasi peluang apresiasi rupiah lebih lanjut.
Di dalam negeri, data kredit yang dirilis Rabu menunjukkan pertumbuhan kredit yang masih moderat. Loan Growth secara tahunan (YoY) tercatat 7,74% pada November, naik tipis dari 7,36%. Angka ini mencerminkan pemulihan pembiayaan yang selektif dan menandakan aktivitas kredit masih berada dalam fase penyesuaian seiring kehati-hatian dunia usaha dan rumah tangga.
BI juga mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75%, sesuai ekspektasi pasar. Deposit Facility Rate tetap di 3,75% dan Lending Facility Rate di 5,50%. Keputusan tersebut menegaskan sikap kebijakan yang masih cenderung netral-ketat, dengan fokus pada stabilitas nilai tukar dan inflasi, sambil memberi ruang terbatas bagi pemulihan kredit secara bertahap.
Sebelumnya, BI telah memangkas suku bunga secara akumulatif 150 basis poin sepanjang September 2024 hingga September 2025. Ke depan, bank sentral membuka peluang kalibrasi kebijakan lanjutan seiring proyeksi inflasi 2026 yang dinilai tetap rendah. “Kami akan mengevaluasi besarnya pelonggaran dan waktunya dari bulan ke bulan,” ujar Gubernur BI, dikutip dari Reuters.
Dari Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada sinyal pelemahan tenaga kerja dan implikasinya terhadap kebijakan Federal Reserve. Rogier Quaedvlieg dari ABN AMRO menilai pelemahan berlanjut terlihat dari Non-Farm Payrolls (NFP) Oktober yang turun 105 ribu dan November yang hanya naik 64 ribu, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,6%. Ia menilai kontraksi perekrutan, pelemahan manufaktur, dan perlambatan upah dapat membuka ruang bagi The Fed untuk beralih ke pelonggaran bertahap, meski jeda pada Januari masih menjadi skenario dasar.
Sementara itu, Frances Cheung dan Christopher Wong dari OCBC mencatat dolar AS melemah di sekitar rilis payrolls November, namun belum cukup untuk mengubah ekspektasi kebijakan. DXY disebut bertahan di sekitar 98,58, dengan peluang pemangkasan suku bunga pada Januari masih rendah (sekitar 24%) dan ekspektasi pemangkasan kumulatif hingga 2026 relatif stabil.
Nada kehati-hatian juga tercermin dari pernyataan pejabat The Fed. Raphael Bostic menilai pertumbuhan PDB AS masih kuat hingga 2026, namun menegaskan inflasi tetap lebih mengkhawatirkan dibanding ketenagakerjaan. Christopher Waller mengatakan The Fed tidak terburu-buru memangkas suku bunga, menilai kebijakan saat ini masih 50–100 basis poin di atas level netral dan langkah ke depan akan bersifat moderat.
Pelaku pasar kini menanti rilis inflasi AS sebagai penentu arah jangka pendek dolar dan rupiah. Menjelang publikasi data pada Kamis (18 Desember), Indeks Harga Konsumen (IHK) AS November diprakirakan naik tipis menjadi 3,1% YoY, dengan inflasi inti bertahan di 3,0%. Rincian komponen—terutama shelter dan jasa—dinilai penting untuk membentuk ekspektasi kebijakan The Fed. Selain itu, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal diprakirakan turun ke 225 ribu, sementara Survei Manufaktur The Fed Philadelphia diproyeksikan membaik ke level 3.
Bagi rupiah, rangkaian data tersebut berpotensi menjadi katalis arah dalam waktu dekat. Kejutan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong penguatan DXY dan menekan rupiah. Sebaliknya, hasil yang selaras atau lebih lemah dari ekspektasi dapat membuka peluang pelemahan dolar lanjutan, yang memberi ruang bagi rupiah selama faktor domestik tetap stabil setelah keputusan BI.

