Sebuah studi terbaru menemukan bahwa tingkat polusi dari kendaraan di jalan tidak selalu sama. Penelitian yang dipimpin Profesor David Carslaw dari University of York, Inggris, menunjukkan ada kendaraan yang jauh lebih berpolusi dibandingkan yang lain, dan desain serta posisi pipa knalpot turut memengaruhi seberapa banyak polusi udara yang terhirup pejalan kaki di trotoar.
Temuan itu didapat setelah tim peneliti mengukur emisi knalpot dari sekitar 38.000 kendaraan di Milan, Italia, dan York, Inggris. Hasilnya menunjukkan kendaraan diesel masih mendominasi polusi knalpot serta mengeluarkan nitrogen oksida di jalan lebih tinggi dibandingkan dalam pengujian resmi.
Di Milan, kendaraan diesel disebut bertanggung jawab atas 81 persen nitrogen oksida dari lalu lintas lokal. Selain itu, diesel menghasilkan 61 persen karbon hitam dan 55 persen partikel kecil.
Penelitian ini juga menyoroti tantangan dalam mengukur polusi dari masing-masing kendaraan ketika lalu lintas padat. Menurut Carslaw, asap knalpot dari kendaraan yang melintas kerap saling tumpang tindih, sehingga sulit menentukan kontribusi tiap kendaraan. Untuk mengatasi hal itu, peneliti melakukan pengukuran detik demi detik tepat di sebelah trotoar dan mengembangkan pendekatan analisis data baru.
Dari pengukuran tersebut, tim menemukan 5 persen mobil yang paling berpolusi menghasilkan nitrogen oksida hingga dua kali lipat dibandingkan kendaraan rata-rata. Sementara untuk karbon hitam dan partikel kecil, perbedaannya bisa lebih dari tujuh kali lipat. Temuan ini mengindikasikan adanya masalah pada sebagian filter partikulat, sekaligus memperlihatkan perbedaan yang jelas di antara berbagai produsen kendaraan.
Salah satu hasil yang paling menonjol adalah pengaruh posisi knalpot terhadap konsentrasi polutan di dekat jalan. Studi menemukan pejalan kaki di trotoar terpapar sekitar 40 persen lebih banyak polusi ketika sebuah mobil dengan knalpot yang posisinya dekat dengan tepian jalan melintas, dibandingkan mobil yang knalpotnya lebih dekat ke tengah jalan.
Carslaw menyatakan timnya terkejut karena sebagian besar mobil diesel memiliki knalpot di sebelah kiri. Di Inggris, posisi ini paling dekat dengan tepian jalan sehingga dampaknya terhadap konsentrasi polusi menjadi paling besar. Sebaliknya, sebagian besar mobil bensin dan bensin hibrida memiliki knalpot di sebelah kanan.
Tim peneliti memperkirakan polusi lalu lintas di pinggir jalanan Inggris dapat dikurangi sebesar 21 persen jika semua mobil diesel memiliki pipa knalpot yang posisinya lebih dekat ke tengah jalan.
Penelitian ini juga mencatat efek turbulensi dari kendaraan listrik—terutama bus dan van—yang dinilai menguntungkan. Turbulensi tersebut membantu menguraikan polusi tanpa menyumbangkan emisi knalpot dari kendaraan listrik itu sendiri.
Meski kendaraan diesel masih menjadi penyumbang utama polusi knalpot, studi ini menyebut dampak penerapan standar emisi baru yang lebih ketat terlihat jelas. Jika sebelumnya mesin diesel dianggap jauh lebih kotor karena menghasilkan nitrogen oksida yang sangat tinggi dibandingkan mesin bensin, teknologi terbaru disebut telah menurunkan emisi gas tersebut hingga setara dengan mesin bensin. Kendaraan diesel terbaru juga dilaporkan menghasilkan polusi partikel yang jauh lebih rendah dibandingkan model-model lama.

