JAKARTA — Anies Baswedan menilai demokrasi saat ini berada dalam fase yang berbeda dibanding era sebelumnya, seiring menguatnya peran anak muda dan teknologi digital. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “Golden Triangle of 21st Century” yang terdiri dari tiga unsur: anak muda, teknologi digital, dan demokrasi.
Pernyataan itu disampaikan Anies dalam diskusi bersama sejumlah tokoh nasional, antara lain Eep Saefullah, Rocky Gerung, dan Sukidi. Diskusi tersebut ditayangkan di kanal YouTube Keep Talking dan dikutip pada Sabtu, 8 Maret 2025.
Dalam pandangannya, perubahan lanskap politik saat ini ditandai hilangnya perantara atau mediator yang sebelumnya menjadi penghubung antara publik, kebijakan, dan politik. Akibatnya, sejumlah peristiwa politik dinilai “di-bypass” dan mekanisme penyaringan informasi melemah.
“Kita harus mencari cara baru karena hilangnya perantara, tidak ada lagi mediator. Peristiwa politik di-bypass semua. Saringan hilang. Dan yang terjadi sekarang pemilih mengambil atau memilih berdasar kesukaan, ketertarikan. Bandingkan dengan substansinya,” ujar Anies.
Ia menggambarkan fase tersebut sebagai situasi unik, ketika sebagian anak muda cenderung mengambil keputusan berdasarkan hal yang menyenangkan, sementara substansi menjadi pertimbangan belakangan. Anies menyebutnya sebagai bagian dari proses pembelajaran berdemokrasi.
Menurutnya, manusia perlu merespons perubahan ini agar kontrol terhadap kekuasaan tetap terjaga. Ia mengingatkan, bila pengendalian kekuasaan tidak terselamatkan, ongkos yang harus ditanggung rakyat akan selalu mahal.
Anies juga menyoroti tantangan modern yang muncul seiring fasilitas teknologi digital yang semakin luar biasa. Ia menilai demokrasi sedang mengalami masa transisi, di mana faktor “ketersukaan” dapat menjadi dominan dan memunculkan ruang bagi hal-hal yang dianggapnya “kelucuan” untuk lebih menonjol.
Lebih jauh, Anies menyatakan teknologi turut menghilangkan rasa takut terhadap rezim otoriter, terutama di kalangan anak muda. Dalam konteks itu, ia menekankan bahwa demokrasi bertumpu pada kepercayaan.
Ia mempertanyakan apakah “Golden Triangle of 21st Century” akan lebih banyak menghilangkan rasa takut atau justru menumbuhkan kepercayaan dalam demokrasi.
Dalam diskusi yang sama, Anies menyebut Rocky Gerung memiliki pandangan berbeda mengenai “segitiga” yang dimaksud. Menurut Anies, Rocky melihat segitiga itu sebagai Megawati, Prabowo, dan Jokowi.

