Backdoor Listing NINE Masuk Tahap Tender Offer, Inbreng Aset Tambang Mongolia Dinanti

Backdoor Listing NINE Masuk Tahap Tender Offer, Inbreng Aset Tambang Mongolia Dinanti

Proses backdoor listing yang melibatkan saham NINE memasuki fase yang lebih konkret setelah Grup Poh mengumumkan pelaksanaan mandatory tender offer (MTO) di harga Rp131 per saham. Periode MTO dijadwalkan berlangsung pada 19 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026.

Setelah tahapan tender offer, agenda berikutnya adalah rencana pengalihan aset tambang milik Grup Poh ke NINE. Berdasarkan keterangan pada akhir 2025, aset yang akan dialihkan berasal dari Poh Golden Ger Resources Pte. Ltd, entitas yang disebut sebagai bagian dari Grup Poh, berupa tambang di Mongolia dengan nilai indikatif sekitar US$150 juta.

Namun nilai tersebut masih bersifat indikatif. Nilai transaksi final disebut akan ditentukan berdasarkan rata-rata hasil penilaian dari dua penilai independen yang ditunjuk, masing-masing dari Indonesia dan Australia.

Dalam rangka transaksi ini, opsi pembelian berlaku selama sembilan bulan sejak penandatanganan opsi. Dengan asumsi penandatanganan dilakukan pada Desember 2025, masa berlakunya diperkirakan hingga September 2026.

Untuk mengeksekusi akuisisi aset tambang tersebut, NINE direncanakan melakukan right issue paling lambat pada kuartal II/2026 atau sekitar April–Juni 2026. Skema pengalihan aset menggunakan mekanisme inbreng, sehingga saham baru NINE akan diambil oleh Grup Poh melalui pemasukan aset, bukan melalui setoran kas. Tambahan dana tunai, jika ada, diperkirakan hanya berasal dari investor ritel yang ikut mengeksekusi haknya.

Adapun aset tambang di Mongolia yang dikaitkan dengan Tian Poh Resources Ltd disebut terdiri dari dua aset. Pertama, tambang batu bara Nuurst seluas 2.497 hektare dengan sumber daya (bukan cadangan) sebesar 478 juta ton dan berlokasi sekitar 100 kilometer dari Ulan Bator. Batu bara yang disebutkan merupakan batu bara termal berkalori rendah. Kedua, tambang batu bara semi-kokas seluas 530 hektare dengan cadangan 61 juta ton yang posisinya dekat perbatasan China.

Di sisi lain, sebelumnya Grup Poh juga sempat disebut berencana mengakuisisi tambang di Indonesia sebagai alasan melakukan backdoor listing di Indonesia. Namun dalam pernyataan manajemen terakhir yang dikutip, rencana akuisisi aset pertambangan di Indonesia masih dalam tahap kajian.

Dari sisi prospek, terdapat dua aspek yang menjadi perhatian: fundamental bisnis dari aset yang akan di-inbreng dan potensi pergerakan harga saham terkait aksi korporasi.

Dari sisi bisnis, aset tambang Mongolia tersebut masih menyisakan pertanyaan, terutama terkait status operasionalnya apakah sudah produksi komersial atau masih eksplorasi. Jejak entitas Tian Poh Resources Ltd (TPO) yang sempat tercatat di bursa Australia (ASX) juga disebut tidak mulus. Manajemen TPO mengajukan suspensi saham sejak 11 Agustus 2021, dan sahamnya kemudian delisting secara teknis pada Agustus 2023 setelah dua tahun berada dalam status suspensi.

Dokumen keterbukaan informasi yang dirujuk menyebut aktivitas di Mongolia pada periode hingga 2022 masih terkait eksplorasi. Dalam rilis 31 Januari 2022, perusahaan disebut masih melakukan studi kelayakan komersial operasi penambangan untuk 2022/2023, sejalan dengan pemulihan harga batu bara pada periode tersebut, serta mengevaluasi opsi pendanaan dan studi nilai tambah.

Dari sisi keuangan, laporan keuangan TPO sepanjang 2021 mencatat kerugian sekitar 874,13 ribu dolar Australia, lebih kecil dibandingkan kerugian 2020 sebesar 4,94 juta dolar Australia yang disebut terjadi karena tidak ada penjualan. TPO juga tercatat memiliki utang berbunga sebesar 5,15 juta dolar Australia per 2021, dengan ekuitas defisit 4,62 juta dolar Australia. Laporan 2021 disebut sebagai laporan keuangan terakhir yang dapat diakses.

Dari sisi aksi korporasi dan harga saham, right issue yang direncanakan diperkirakan berskala besar jika mengacu pada nilai aset indikatif sekitar Rp2,47 triliun, sementara ekuitas NINE disebut sekitar Rp33 miliar dengan jumlah saham 2,16 miliar lembar. Dengan skema inbreng, transaksi tersebut tidak identik dengan masuknya dana segar ke perusahaan dari pengendali, meski dapat memengaruhi struktur permodalan dan valuasi.

Dalam simulasi kasar yang disampaikan dalam materi acuan, digunakan dua skenario harga pelaksanaan right issue—Rp100 per saham dan Rp500 per saham—yang ditegaskan sebagai simulasi, bukan kepastian. Pada skenario Rp100 per saham, penerbitan saham baru diperkirakan mencapai 24,7 miliar lembar, dengan book value per share pasca right issue menjadi sekitar Rp93 per saham. Pada skenario Rp500 per saham, saham baru yang diterbitkan diperkirakan sekitar 4,94 miliar lembar, dengan book value per share sekitar Rp352 per saham. Simulasi tersebut juga menyoroti potensi perubahan rasio valuasi dan volatilitas harga, namun hasil akhirnya dinilai sangat bergantung pada skema harga pelaksanaan serta kepastian realisasi dan kualitas aset yang di-inbreng.

Secara keseluruhan, rencana backdoor listing NINE melalui rangkaian MTO dan inbreng aset tambang Mongolia membuka peluang terjadinya perubahan besar pada struktur permodalan perusahaan, yang berpotensi memicu fluktuasi harga saham. Namun, dari sisi bisnis, masih terdapat ketidakpastian terkait kesiapan aset tambang Mongolia untuk menghasilkan kinerja keuangan, terutama jika aktivitasnya masih berada pada tahap eksplorasi.