Bahaa Hariri, Krisis Teluk, dan Pengunduran Diri Saad Hariri: Jejak Rivalitas Keluarga di Balik Gejolak Politik Lebanon

Bahaa Hariri, Krisis Teluk, dan Pengunduran Diri Saad Hariri: Jejak Rivalitas Keluarga di Balik Gejolak Politik Lebanon

Bahaa Hariri, putra mendiang Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri, disebut pernah datang ke Washington pada musim semi 2011 dengan agenda yang dinilai berkaitan dengan ambisi politiknya sendiri. Saat itu, banyak pihak menduga kedatangannya terkait rencana kunjungan adiknya, Saad Hariri, yang dijadwalkan bertemu Presiden AS Barack Obama pada Juni. Namun narasi yang muncul menyebut Bahaa justru berupaya membangun jejaring dan dukungan untuk membuka peluang tampil sebagai pemimpin Lebanon, menggantikan Saad.

Setelah Rafik Hariri tewas terbunuh pada 2005, perhatian publik sempat tertuju pada Bahaa sebagai putra sulung yang dianggap wajar mengambil alih peran politik sang ayah. Akan tetapi, ketika Bahaa dan Saad bertemu mendiang Raja Arab Saudi Abdullah di Riyadh, keduanya disebut diminta bertukar peran: Saad melanjutkan kepemimpinan politik keluarga, sementara Bahaa menangani bisnis keluarga Hariri.

Kesepakatan itu berjalan hingga muncul persoalan ketika Bahaa menyampaikan niat menjual sahamnya di bisnis keluarga. Untuk menjaga kepemilikan tetap berada di lingkar keluarga besar, Saad membeli bagian Bahaa. Keputusan tersebut, menurut cerita yang beredar, kemudian menjadi sumber ketegangan yang berujung mahal bagi Saad.

Pada kunjungan Bahaa ke Washington di tengah periode Arab Spring, ia disebut mengeluarkan dana besar untuk bertemu pelobi dan pengambil keputusan di AS. Ia juga dikatakan menyumbang USD 10 juta kepada Atlantic Council untuk pembangunan Rafik Hariri Center. Namun, tak lama setelah aktivitas itu, Bahaa disebut menerima telepon dari Riyadh yang memintanya segera meninggalkan Washington, dan ia pun mematuhi instruksi tersebut.

Sementara itu di Lebanon, Saad Hariri disebut menghadapi tekanan finansial ketika kerajaan bisnis keluarga mengalami kemerosotan. Perusahaan kontraktor utama mereka, Saudi Oger, disebut mengalami penggelapan dana besar sehingga pemerintah Saudi menahan pembayaran kepada keluarga Hariri. Dalam upaya mempertahankan perusahaan, Saad dikisahkan mencari pinjaman ke sejumlah negara. Qatar disebut memberi pinjaman lunak jangka panjang, sementara Saad berupaya keluar dari kesulitan keuangan yang membelitnya.

Situasi ini kemudian beririsan dengan memburuknya hubungan sejumlah negara Teluk dengan Qatar. Pada musim panas yang disebut dalam narasi tersebut, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) meluncurkan serangan media terhadap Qatar terkait pernyataan yang diklaim berasal dari Emir Qatar Sheikh Tamim al-Thani mengenai rencana memperbaiki hubungan dengan Iran. Belakangan, situs berita Qatar yang memuat pernyataan itu disebut diretas sehingga pernyataan palsu terpublikasi.

Ketika Qatar, dengan bantuan AS, menyatakan telah membuktikan adanya peretasan, Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir kemudian mengumumkan boikot terhadap Qatar. Mereka menyampaikan daftar 13 tuntutan kepada Doha, termasuk permintaan menutup kanal Al Jazeera. Arab Saudi dan UEA juga mendorong negara-negara mitra mereka mengikuti langkah pemutusan hubungan diplomatik, meski sebagian negara mengambil posisi lebih hati-hati.

Yordania, misalnya, menarik duta besarnya namun tetap mempertahankan kantor kedutaan di Doha. Kuwait mengambil peran sebagai penengah, demikian pula Turki. Di Beirut, Saad Hariri disebut berusaha menjaga netralitas. Ia beberapa kali menghindari komentar soal krisis Teluk, dan bila berbicara, ia menekankan harapan agar kesalahpahaman diselesaikan. Sikap ini disebut menyinggung UEA yang memimpin kampanye anti-Qatar.

Dalam cerita yang sama, Saad Hariri juga disebut dipanggil ke Riyadh dan diminta melunasi utangnya kepada Qatar, dengan tawaran bantuan untuk membayar sebagian. Namun, informasi mengenai pinjaman Qatar kepada Hariri digambarkan tidak jelas dan saling bertentangan.

Di tengah dinamika tersebut, Saad Hariri mendadak muncul di televisi Riyadh dan membacakan pernyataan pengunduran diri sebagai perdana menteri Lebanon. Ia sempat kembali menjabat pada Desember 2016, dan sebelum pertengahan November ia mengajukan pengunduran diri secara resmi.

Pengunduran diri itu banyak dikaitkan dengan sikapnya terhadap pengaruh Iran di Lebanon. Tak lama kemudian, muncul laporan bahwa Saad Hariri ditahan di Riyadh atau berada dalam status tahanan rumah. Isu tersebut memicu perhatian internasional, termasuk ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron yang berkunjung ke Arab Saudi disebut meminta pembebasan Hariri kepada pejabat Saudi. Saad Hariri disebut memegang paspor Saudi dan Lebanon, serta paspor Prancis.

Pada saat Saad menghadapi masalah di Riyadh, Bahaa Hariri disebut bergerak cepat. Di Lebanon, ia diyakini mensponsori gerakan yang dapat memecah keluarga Hariri, dengan dukungan mantan polisi Ashraf Rifi. Bahaa juga disebut memiliki kedekatan dengan penguasa UEA.

Skema yang digambarkan adalah: bila Saad tidak bisa menjalankan kepemimpinan, Bahaa dapat tampil sebagai pengganti. Alternatif lain, Rifi dapat memenangkan blok parlemen yang berguna dalam pemilu yang dijadwalkan pada Mei, dan bahkan disebut berpeluang menjadi perdana menteri sementara hingga Bahaa muncul sebagai pemimpin Sunni dan perdana menteri baru.

Meski tampak mungkin di atas kertas, narasi itu menilai realitas politik Lebanon jauh lebih rumit. Konfigurasi kekuatan politik dan agama membuat proses pemilihan presiden dan perdana menteri kerap memakan waktu satu hingga dua tahun. Bahkan pembentukan kabinet pernah berlangsung hingga dua tahun di tengah tarik-menarik kepentingan.

Dari sudut pandang faksi pro-Iran di Lebanon—Hezbollah, Presiden Michel Aoun, dan Ketua Parlemen Nabih Berri—kedekatan Bahaa dengan UEA dan, secara tidak langsung, dengan kepemimpinan Arab Saudi, disebut membuatnya kurang menarik. Sebaliknya, bila Saad dianggap lebih dekat ke Qatar, maka pilihan mereka disebut akan condong pada figur yang lebih jauh dari Riyadh.

Dalam penilaian yang dikemukakan, Bahaa Hariri digambarkan memiliki karakter lebih konfrontatif dibanding Saad. Jika ia menjadi perdana menteri, Iran dan sekutu-sekutunya, terutama Hezbollah, disebut akan terpinggirkan. Karena itu, peluang Bahaa untuk menjadi pemimpin Lebanon dinilai akan menghadapi hambatan besar.

Pada akhirnya, narasi ini menyimpulkan bahwa pengunduran diri Saad Hariri tidak semata-mata terkait persaingan strategis Iran-Arab Saudi, melainkan juga dipenuhi unsur rivalitas dan dendam pribadi, termasuk dinamika di dalam keluarga Hariri. Dengan karakter persoalan seperti itu, dampaknya disebut tidak serta-merta mengubah stabilitas Lebanon maupun situasi Lebanon-Israel, meski sempat menarik perhatian dunia.