Nama Prabowo Subianto mendadak menanjak di Google Trend ketika ia menyatakan berguru ilmu politik dari Nahdlatul Ulama.
Pernyataan itu disampaikan saat ia menutup Musyawarah Nasional NU di Madura.
Di panggung penutupan, Prabowo mengajak publik belajar politik dari NU.
Ia juga menekankan pentingnya peran kiai dalam masyarakat.
Pernyataan tersebut sederhana, tetapi memantik percakapan luas.
Di Indonesia, politik jarang berdiri sendiri.
Ia selalu bersentuhan dengan ingatan kolektif, otoritas moral, dan jaringan sosial yang hidup di akar rumput.
NU adalah salah satu simpul terbesar dari semua itu.
-000-
Mengapa Pernyataan Ini Menjadi Tren
Tren biasanya muncul bukan hanya karena kalimatnya, melainkan karena lapisan makna di belakangnya.
Kalimat “berguru” menempatkan seorang presiden pada posisi murid.
Dalam budaya politik yang sering menonjolkan ketegasan, gestur merendah itu terasa tidak biasa.
Alasan pertama, NU dipahami banyak orang sebagai rujukan moral sekaligus kekuatan sosial.
Ketika seorang presiden menyebutnya sebagai guru politik, publik membaca sinyal tentang arah kepemimpinan dan cara merawat legitimasi.
Alasan kedua, pernyataan itu muncul di momen resmi, yaitu penutupan Munas.
Ruang seperti itu menegaskan bahwa pesan yang disampaikan bukan obrolan santai, melainkan bagian dari komunikasi kenegaraan.
Alasan ketiga, ada sensitivitas lama dalam relasi agama dan politik.
Setiap kalimat yang menyentuh peran kiai mudah memantik tafsir, dari dukungan moral hingga kekhawatiran politisasi.
-000-
Apa yang Sebenarnya Disampaikan Prabowo
Berita ini berpusat pada dua penekanan.
Pertama, ajakan belajar politik dari NU.
Kedua, penegasan peran kiai dalam masyarakat.
Ajakan itu bukan sekadar pujian.
Ia mengandung klaim bahwa ada tradisi politik tertentu yang bisa dipelajari dari NU.
Dalam bahasa publik, NU sering diasosiasikan dengan kemampuan merawat moderasi sosial.
Juga kemampuan menjaga kohesi di tengah perbedaan.
Sementara penekanan pada kiai menyentuh satu realitas yang sulit dibantah.
Di banyak wilayah, kiai bukan hanya pemimpin spiritual.
Mereka juga rujukan etika, penengah konflik, dan simpul solidaritas.
-000-
NU sebagai Sekolah Politik Sosial
Ketika Prabowo menyebut NU sebagai guru politik, pertanyaannya menjadi lebih konseptual.
Politik macam apa yang ia maksud.
Dalam praktik keseharian, politik tidak selalu berarti perebutan kekuasaan.
Ia juga berarti seni mengelola perbedaan, membangun kepercayaan, dan merawat tata hidup bersama.
NU tumbuh dari jaringan pesantren dan komunitas.
Jaringan ini membentuk kebiasaan musyawarah, disiplin sosial, dan kepemimpinan yang dekat dengan warga.
Di ruang-ruang semacam itu, legitimasi tidak hanya ditentukan oleh jabatan.
Legitimasi juga ditentukan oleh keteladanan dan kedekatan.
Karena itu, frasa “belajar politik” bisa dibaca sebagai belajar merawat kedekatan yang tidak artifisial.
Belajar mendengar sebelum memutuskan.
Belajar menahan diri ketika suasana panas.
-000-
Peran Kiai dan Nalar Publik
Penekanan Prabowo tentang pentingnya kiai menyentuh wilayah yang sensitif sekaligus vital.
Di banyak komunitas, kiai menjadi penjaga nalar publik.
Mereka membantu warga memilah kabar, menafsirkan peristiwa, dan menentukan sikap.
Peran ini makin penting ketika ruang digital mempercepat arus informasi.
Kecepatan sering mengalahkan ketelitian.
Emosi sering mengalahkan verifikasi.
Dalam keadaan seperti itu, otoritas sosial yang dipercaya dapat berfungsi sebagai jangkar.
Namun, jangkar juga bisa menjadi beban bila diseret ke pertarungan yang sempit.
Karena itu, kalimat tentang peran kiai memanggil dua harapan sekaligus.
Harapan akan bimbingan moral.
Juga harapan agar ruang keagamaan tidak dipakai sebagai alat saling meniadakan.
-000-
Isu Besar yang Disentuh: Demokrasi, Kepercayaan, dan Kohesi Sosial
Pernyataan Prabowo menjadi pintu masuk untuk membahas isu besar Indonesia.
Yakni demokrasi yang bergantung pada kepercayaan.
Demokrasi tidak hanya hidup dari prosedur.
Ia hidup dari rasa percaya bahwa perbedaan bisa dikelola tanpa kekerasan.
Ketika seorang presiden menyinggung NU dan kiai, ia berbicara kepada jaringan kepercayaan yang nyata.
Jaringan itu selama puluhan tahun membantu masyarakat menghadapi perubahan.
Dari perubahan ekonomi.
Perubahan budaya.
Sampai perubahan teknologi.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi polarisasi yang mudah menyala.
Polarisasi sering berangkat dari identitas.
Sering pula diperkeras oleh kompetisi politik.
Di titik ini, NU sering dipandang sebagai salah satu penyangga kohesi sosial.
Itulah sebabnya satu kalimat tentang “berguru” bisa menjadi percakapan nasional.
-000-
Kerangka Riset: Mengapa Otoritas Moral Berpengaruh
Untuk memahami dampak pernyataan ini, kita perlu kacamata riset sosial.
Ilmu politik mengenal konsep modal sosial.
Modal sosial merujuk pada jejaring, norma, dan kepercayaan yang memudahkan kerja sama.
Dalam masyarakat yang majemuk, modal sosial membantu menurunkan biaya konflik.
Ia juga membantu mempercepat pemecahan masalah bersama.
Organisasi kemasyarakatan besar, termasuk organisasi keagamaan, kerap menjadi produsen modal sosial.
Melalui pendidikan, layanan sosial, dan forum musyawarah.
Ketika pemimpin negara mengakui “belajar” dari organisasi seperti NU, ia seolah mengakui nilai modal sosial itu.
Riset lain dalam studi demokrasi menekankan pentingnya perantara.
Perantara adalah aktor yang menjembatani negara dan warga.
Di banyak tempat, perantara bisa berupa tokoh lokal yang dipercaya.
Di Indonesia, kiai sering menjalankan fungsi tersebut.
Fungsi ini bisa memperkuat demokrasi bila dipakai untuk menenangkan dan mencerdaskan.
Fungsi ini bisa melemahkan demokrasi bila dipakai untuk memaksa keseragaman.
-000-
Pelajaran dari Luar Negeri yang Serupa
Isu hubungan pemimpin politik dan otoritas keagamaan bukan hanya milik Indonesia.
Banyak negara mengalami tarik-menarik serupa.
Di Amerika Serikat, misalnya, dukungan kelompok keagamaan sering menjadi faktor penting dalam pemilu.
Tokoh politik kerap hadir di forum keagamaan untuk menyampaikan pesan moral dan sosial.
Di India, relasi politik dan identitas keagamaan juga kerap menjadi sorotan global.
Pernyataan pemimpin terkait organisasi atau tokoh agama sering memicu perdebatan tentang batas antara penghormatan dan politisasi.
Di beberapa negara Eropa, partai politik berbasis nilai keagamaan pernah memainkan peran besar.
Mereka menunjukkan bahwa agama bisa menjadi sumber etika publik.
Namun, pengalaman global juga memperlihatkan risiko ketika agama dipakai untuk menutup ruang warga lain.
Referensi luar negeri ini tidak identik dengan Indonesia.
Namun ia membantu kita melihat pola umum.
Pengakuan terhadap otoritas moral dapat memperkuat kohesi.
Atau justru memperdalam garis pemisah bila tidak hati-hati.
-000-
Membaca Pernyataan Ini Secara Netral
Secara netral, pernyataan Prabowo dapat dibaca sebagai penghormatan kepada NU.
Juga sebagai pengakuan bahwa politik membutuhkan kebijaksanaan sosial.
Dalam kerangka itu, kiai diposisikan sebagai penjaga nilai dan ketertiban sosial.
Namun publik juga wajar bertanya.
Bagaimana penghormatan itu diterjemahkan dalam kebijakan dan praktik pemerintahan.
Apakah “belajar” berarti memperkuat dialog.
Atau hanya menjadi simbol komunikasi.
Pertanyaan seperti ini bukan sinisme.
Ia bagian dari kewaspadaan demokratis.
Demokrasi membutuhkan ruang untuk menguji kata-kata melalui tindakan.
-000-
Risiko yang Perlu Diantisipasi
Setiap pertemuan antara kekuasaan dan otoritas moral memiliki risiko.
Risiko pertama adalah penyempitan makna agama menjadi sekadar akses politik.
Jika itu terjadi, warga akan kehilangan ruang teduh yang seharusnya memulihkan.
Risiko kedua adalah beban berlebihan pada kiai.
Ketika semua persoalan publik ditumpukan pada tokoh moral, institusi negara bisa luput dari tanggung jawab.
Risiko ketiga adalah munculnya tafsir tunggal.
Padahal Indonesia berdiri di atas kemajemukan.
Merawat kemajemukan berarti mengakui banyak sumber kebijaksanaan.
NU salah satu yang besar, tetapi bukan satu-satunya.
-000-
Rekomendasi: Cara Menanggapi Isu Ini dengan Dewasa
Pertama, publik perlu memisahkan penghormatan dari klaim politik yang berlebihan.
Kalimat “berguru” adalah pernyataan simbolik yang perlu diuji melalui kebijakan dan etika kekuasaan.
Kedua, organisasi kemasyarakatan, termasuk NU, dapat menjaga marwahnya dengan tetap mengutamakan pelayanan sosial.
Dengan begitu, kedekatan dengan negara tidak menggerus kepercayaan warga.
Ketiga, pemerintah dapat menindaklanjuti pesan tentang peran kiai melalui penguatan ruang dialog.
Dialog lintas kelompok dapat mencegah polarisasi berbasis identitas.
Keempat, media dan warganet sebaiknya menahan dorongan untuk menyederhanakan isu.
Isu ini bukan sekadar siapa dekat dengan siapa.
Isu ini tentang bagaimana demokrasi merawat sumber-sumber kebijaksanaan sosial.
Kelima, warga dapat merawat sikap kritis yang tenang.
Kritis tanpa mencaci.
Mengawasi tanpa meniadakan.
-000-
Penutup: Politik yang Belajar untuk Merendah
Di Madura, seorang presiden menyebut dirinya murid.
Di hadapan organisasi besar, ia mengingatkan bahwa politik bukan hanya strategi, tetapi juga etika.
Di titik tertentu, publik tidak hanya menilai kata-kata.
Publik menilai apakah kata-kata itu melahirkan keteduhan dalam kehidupan bersama.
Indonesia membutuhkan politik yang mampu mengubah perbedaan menjadi kerja sama.
Dan membutuhkan otoritas moral yang membantu warga tetap waras di tengah bising.
Jika pernyataan ini dibaca sebagai ajakan merawat kebijaksanaan sosial, maka ia patut dijaga dari tafsir yang memecah.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari demokrasi adalah kesediaan untuk terus belajar.
Karena seperti kata bijak yang sering diulang di banyak tradisi, “Kebijaksanaan lahir dari kerendahan hati untuk mendengar.”

