Informasi yang menyebut gempa megathrust dahsyat akan melanda seluruh wilayah Indonesia pada 2026 ramai beredar di media sosial dan memicu kekhawatiran masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kabar tersebut tidak benar atau hoaks.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak berasal dari kanal resmi. Lembaga ini juga menekankan bahwa hingga kini belum ada teknologi maupun ilmu pengetahuan yang mampu memprediksi secara akurat kapan, di mana, dan seberapa besar gempa bumi akan terjadi.
Menurut BMKG, sebuah prediksi gempa seharusnya memuat tiga unsur penting, yakni tanggal dan waktu kejadian, lokasi, serta magnitudo. Klaim yang beredar di media sosial dinilai tidak memenuhi kriteria tersebut dan tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang valid.
BMKG turut menjelaskan perbedaan antara “kajian potensi” dan “prediksi waktu kejadian”. Kajian potensi dilakukan secara rutin untuk pemetaan risiko serta memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, bukan untuk menentukan waktu terjadinya gempa. Karena itu, informasi mengenai potensi gempa seharusnya dimaknai sebagai dasar meningkatkan kesiapan, bukan sebagai kepastian kejadian dalam waktu tertentu.
BMKG mengingatkan masyarakat agar selalu memverifikasi informasi kebencanaan melalui sumber resmi, termasuk kanal-kanal komunikasi BMKG. Di sisi lain, BMKG menyatakan terus melakukan pemantauan aktivitas seismik dan kajian potensi sumber gempa di berbagai wilayah Indonesia.
Gempa megathrust sendiri merupakan gempa sangat besar yang terjadi di zona subduksi, ketika satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya. Gempa jenis ini dipicu penumpukan energi akibat pergerakan lempeng yang tertahan, lalu dilepaskan secara tiba-tiba.
Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik memang memiliki potensi gempa megathrust. BMKG menyebut terdapat beberapa zona megathrust di Indonesia, termasuk segmen Mentawai yang kerap disebut sebagai “seismic gap” dan berpotensi menghasilkan gempa besar di masa depan.
Gempa megathrust umumnya berkekuatan sangat besar, di atas magnitudo 8, dan dapat memicu tsunami yang merusak wilayah pesisir. Meski demikian, BMKG menegaskan potensi tersebut tidak berarti waktu kejadian dapat dipastikan. Karena itu, langkah yang ditekankan adalah mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan menyebarkan atau mempercayai klaim prediksi yang tidak berdasar.

