Cek Fakta: Video Klaim Kontak Senjata Darat AS-Israel dan Iran Ternyata Gabungan Konten AI dan Rekaman Lama

Cek Fakta: Video Klaim Kontak Senjata Darat AS-Israel dan Iran Ternyata Gabungan Konten AI dan Rekaman Lama

Sebuah video yang beredar di media sosial disertai narasi bahwa “perang di darat terus berlanjut” dan menyebut pasukan Amerika Serikat serta Israel “disambut tembakan oleh pasukan Iran.” Unggahan itu menarik perhatian luas, dengan lebih dari 12.200 tanda suka, 815 komentar, dan 269 kali dibagikan.

Namun, hasil verifikasi menunjukkan klaim bahwa video tersebut merekam kontak senjata di darat antara pasukan AS-Israel dan Iran tidak benar. Pemeriksaan dilakukan melalui penelusuran sumber kredibel, pencarian gambar terbalik, serta penggunaan alat pendeteksi akal imitasi.

Tempo menemukan versi asli video tanpa keterangan teks. Video serupa sebelumnya diunggah akun Facebook AR24 dengan narasi berbahasa Arab tentang konvoi tank tentara Suriah menuju Kota Qamishli.

Dari sisi visual, ditemukan kejanggalan pada posisi prajurit di atas tank. Tubuh mereka terlihat menggantung secara tidak wajar di pinggir palka komandan. Temuan ini berbeda dengan rekaman parade tank Amerika Serikat maupun parade militer Iran, di mana posisi prajurit umumnya berada tepat di tengah lubang palka.

Uji menggunakan perangkat deteksi AI or Not dan Image Whisperer menyimpulkan klip tersebut merupakan produk akal imitasi, dengan probabilitas video mencapai 77 persen dan audio 46 persen. Image Whisperer juga menandai adanya manipulasi AI dengan tingkat keyakinan tinggi pada beberapa model analisisnya.

Pada klip kedua dalam unggahan yang sama, Tempo menemukan versi asli video melalui pencarian Google. Video itu sebelumnya dibagikan akun Facebook New Pillar-SBT dengan klaim serangan rudal dan drone Iran ke pangkalan militer Israel.

Analisis menggunakan AI or Not dan Hive Moderation kembali mengarah pada kesimpulan serupa: potongan video tersebut merupakan konten akal imitasi. AI or Not memberi label “Likely AI generated” dengan skor probabilitas video 63 persen dan audio 68 persen. Sementara Hive Moderation mendeteksinya sebagai konten hasil rekayasa AI atau deepfake dengan probabilitas 98,5 persen.

Di sisi lain, laporan juga mencatat perkembangan situasi gencatan senjata yang berlangsung dua pekan, tercapai tepat sebelum tenggat ultimatum Amerika Serikat berakhir. Pada 7 April 2026, Presiden Donald Trump disebut sempat mengancam akan menghancurkan Iran hingga kembali ke “zaman batu.” Kesepakatan yang dimediasi Pakistan mewajibkan Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai syarat utama perundingan lanjutan di Pakistan.

Meski demikian, kesepakatan tersebut disebut tidak mencakup Libanon. Pada 8 April, militer Israel membombardir wilayah sekutu Iran itu dan menewaskan sedikitnya 254 orang serta melukai 1.165 lainnya dalam sehari. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan Libanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran.

Sikap itu disebut didukung Gedung Putih. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, “Kami tidak pernah membuat janji itu,” sebagaimana dilaporkan Tempo. Pejabat Iran menuding AS-Israel mengkhianati kesepakatan, sementara Hizbullah menyatakan berhak melakukan aksi balasan.

Hingga 11 April 2026, Israel dilaporkan terus menggempur Libanon selatan. Serangan di Kota Tefahta menewaskan sedikitnya 13 orang. Mengutip Al Jazeera, total korban jiwa sejak perang antara Israel dan Hizbullah meletus pada Maret 2026 telah melampaui 2.000 orang.

Berdasarkan penelusuran tersebut, klaim bahwa terjadi perang di darat antara pasukan AS-Israel dan Iran pada April 2026 dinyatakan keliru. Video yang beredar merupakan gabungan konten hasil akal imitasi dan rekaman peristiwa sebelum pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada Maret 2026.