Sebuah video yang beredar luas di media sosial menampilkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memalingkan tubuh saat berada di depan podium di sebuah panggung. Video itu disertai teks yang mengklaim Trump panik setelah mendengar teriakan “Allahu Akbar” dan disebut langsung dievakuasi petugas keamanan.
Unggahan video tersebut, yang beredar di Instagram, telah ditonton jutaan kali dan memicu beragam reaksi. Sebagian warganet mempercayai narasi yang tertulis pada video.
Namun, penelusuran Tim Cek Fakta DW Indonesia menyimpulkan klaim itu keliru. Video yang beredar memang berasal dari rekaman asli, tetapi audionya tidak sesuai dengan konteks kejadian sebenarnya.
Dalam proses verifikasi, DW Indonesia terlebih dahulu memeriksa kemungkinan video dibuat dengan kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan analisis menggunakan platform pendeteksi AI Hive Moderation, peluang video tersebut dibuat oleh mesin AI disebut 0%, sehingga rekamannya dinilai asli.
Langkah berikutnya adalah menelusuri konteks video. Dengan kata kunci “Trump flinch security”, mesin pencari mengarah pada rekaman yang sama yang diunggah media CBS di YouTube. Video asli itu memperlihatkan momen kampanye Trump di Ohio pada pertengahan Maret 2016.
Dalam rekaman asli, Trump memalingkan wajah bukan karena mendengar takbir, melainkan karena ada penonton yang diduga berupaya naik ke atas panggung. Petugas keamanan kemudian mengelilinginya untuk perlindungan.
Penelusuran tambahan melalui Google Reverse Image juga mengarah pada laporan pemeriksaan fakta AFP yang memuat tautan ke video asli beserta konteks insiden tersebut.
Temuan penting lainnya adalah tidak adanya suara teriakan “Allahu Akbar” dalam video asli. DW Indonesia menyebut analisis menggunakan platform pendeteksi suara AI Deepfake Total menunjukkan peluang audio tersebut buatan AI relatif kecil, sekitar 25%. DW menduga suara itu sengaja ditambahkan oleh pembuat video.
Video serupa bukan kali pertama muncul. Penelusuran dengan kata kunci “Trump Allahuakbar” menunjukkan konten tersebut pernah diunggah sekitar sembilan tahun lalu di Facebook dan telah dinyatakan hoaks oleh sejumlah kanal berita saat itu. Meski demikian, video yang sama kembali beredar pada 2025, muncul lagi dalam perbincangan di media sosial, termasuk dari penyebar di Indonesia dan Timur Tengah, lalu kembali viral pada akhir Februari 2026.
Kemunculan ulang video tersebut terjadi di tengah ramainya pembahasan mengenai hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Trump dalam rapat perdana Board of Peace di Amerika Serikat pada 19 Februari 2026.
Co-founder sekaligus Fact-check Analyst Mafindo, Aribowo Sasmito, menilai hoaks semacam ini kerap “menumpangi isu yang sedang jadi tren” untuk menarik perhatian publik. Ia juga memperkirakan motif penyebar bisa terkait popularitas dan keuntungan finansial.
Sementara itu, Lead Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, menyebut tren republikasi konten disinformasi, fitnah, dan kebencian kini turut dilakukan oleh akun-akun yang ia sebut sebagai “homeless media”. Rizal menilai tingkat literasi digital berpengaruh terhadap mudah tidaknya seseorang mempercayai konten semacam itu.
Rizal juga menilai sentimen negatif terhadap Trump, Board of Peace, serta perjanjian dagang Indonesia–Amerika Serikat dapat memicu kemunculan disinformasi. Menurutnya, sentimen agama turut berperan dalam penyebaran narasi tersebut.
Baik Aribowo maupun Rizal menekankan pentingnya kehati-hatian saat menerima konten viral. Aribowo mengingatkan bahwa melihat tidak selalu berarti percaya, terutama di era teknologi yang memungkinkan manipulasi konten. Ia menyarankan publik memeriksa kredibilitas sumber sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
Rizal juga menyarankan langkah sederhana: berhenti sejenak sebelum menyukai, mengomentari, atau membagikan konten, lalu melakukan verifikasi terhadap narasi, pihak yang terlibat, dan waktu kejadian. Menurutnya, teknik untuk mengecek audio, visual, dan konteks kini semakin beragam dan dapat dimanfaatkan untuk menghindari menjadi korban hoaks.

