Peringatan hari jadi ke-213 Kabupaten Garut dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menegaskan arah pembangunan daerah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan Garut memiliki kekayaan alam yang besar dan dapat menjadi motor penggerak ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan.
Pernyataan itu disampaikan Dedi Mulyadi dalam Rapat Paripurna Milangkala Garut di Gedung DPRD Kabupaten Garut, Kamis, 19 Februari 2026. Dalam peringatan bertema “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, ia mendorong pemerintah daerah dan masyarakat memusatkan perhatian pada pengembangan sektor pariwisata sebagai bagian dari penataan identitas dan kebanggaan daerah.
Menurut Dedi Mulyadi, pariwisata berpotensi menjadi sektor andalan yang memberi kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia bahkan menilai potensi pajak langsung dari pariwisata dapat melampaui sektor pertambangan apabila dikelola secara serius.
Namun, ia menyoroti sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dibenahi agar pariwisata Garut semakin kompetitif. Ia menyebut pengembangan infrastruktur, penguatan citra merek (branding), serta tata kelola lingkungan sebagai aspek yang perlu mendapat perhatian. Penataan warung, rumah makan, dan kawasan wisata juga dinilai penting agar memiliki ciri khas serta memberi kenyamanan bagi pengunjung.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa peningkatan pendapatan perlu sejalan dengan penguatan identitas lokal. Ia menilai wisatawan harus memperoleh pengalaman yang autentik dan berbeda saat berkunjung ke Garut. Karena itu, penataan fisik di kawasan wisata, termasuk rumah makan dan area kunjungan, dinilai tidak boleh dilakukan secara serampangan.
Ia juga menilai kerapian dan kebersihan yang berpadu dengan karakter daerah menjadi kunci untuk menjaga loyalitas wisatawan. Menurutnya, kawasan wisata yang rapi, bersih, dan berkarakter akan membuat pengunjung betah dan terdorong untuk kembali.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi Mulyadi mendorong evaluasi serta revisi tata ruang wilayah Kabupaten Garut guna menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan kelestarian alam. Ia menilai pariwisata lebih ramah lingkungan dibanding industri ekstraktif, namun tetap memerlukan pengaturan ruang yang jelas agar pembangunan tidak mengancam kawasan lindung.
Ia menyarankan penataan zona antara kawasan pertanian, hortikultura, dan pariwisata dilakukan secara terintegrasi. Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan kawasan seperti gunung, lembah, dan lereng tetap terlindungi dari risiko kerusakan akibat pembangunan yang tidak terkontrol.
Dedi Mulyadi menegaskan pembangunan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan menjadi syarat agar kekayaan alam pegunungan, perkebunan, serta potensi budaya Garut dapat terus dinikmati generasi mendatang. Dengan penataan yang lebih terarah, Garut dinilai memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan di Jawa Barat.

