Deutsche Welle (DW), media internasional independen dari Jerman, akan kembali menggelar program DW Goes to Campus (DWGC) pada 2025 dengan fokus pada literasi cek fakta. Mengusung tema “Cek Fakta: Bagaimana mengatasi disinformasi AI?”, kegiatan ini ditujukan untuk membantu publik memahami cara menyaring informasi, terutama konten viral yang belum tentu benar.
DW menyatakan komitmennya menghadirkan konten berkualitas tanpa bias dan disinformasi. Sejalan dengan itu, DW memproduksi program bertajuk Cek Fakta yang berfokus pada verifikasi informasi yang beredar, identifikasi konten manipulatif, serta penguatan daya berpikir kritis masyarakat.
Rangkaian kegiatan DWGC 2025 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, pada 11–13 November 2025. Tahun ini, DW bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Malang.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 10 dosen terpilih akan mengikuti pelatihan Training of Trainers (ToT) yang dibawakan oleh pelatih DW Indonesia bersertifikasi. Para dosen tersebut kemudian akan berkolaborasi dengan DW Indonesia dalam lokakarya bertema “Cek Fakta: Bagaimana mengatasi disinformasi AI?” yang akan dihadiri ratusan mahasiswa.
Melalui lokakarya, DW Indonesia akan membagikan pengetahuan tentang cara mengidentifikasi konten dalam berbagai format, mulai dari foto, video, hingga audio, sekaligus memaparkan prinsip-prinsip dasar dalam cek fakta. Kegiatan ini dibuka bagi mahasiswa Universitas Brawijaya. Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang dapat menganalisis dan membandingkan informasi berdasarkan fakta.
Selain lokakarya, DWGC 2025 juga akan menghadirkan Campus Dialogue, forum yang mempertemukan praktisi, dosen, dan mahasiswa untuk berdiskusi mengenai konten-konten jurnalistik.
DW pertama kali hadir di Indonesia pada 1963 melalui program radio. Dalam beberapa tahun terakhir, DW Indonesia bertransformasi dengan menyajikan informasi secara multimedia melalui situs, televisi, dan media sosial. DW didirikan pada 1953 sebagai lembaga penyiaran internasional Jerman dan kini menyediakan konten jurnalistik dalam lebih dari 30 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

