FIB UNAIR Gelar Lokakarya Penulisan Konten Ensiklopedia Budaya Surabaya Bersama Dispusip dan Komunitas

FIB UNAIR Gelar Lokakarya Penulisan Konten Ensiklopedia Budaya Surabaya Bersama Dispusip dan Komunitas

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya (Dispusip) serta Komunitas Begandring dan Roode Brug menggelar Lokakarya Penulisan Konten Ensiklopedia untuk Objek Pemajuan Kebudayaan di Surabaya. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Novotel Surabaya, Sabtu, 4 Desember 2021.

Lokakarya ini digelar dengan latar belakang potensi kearifan lokal budaya Arek Surabaya yang dinilai tinggi. Dalam sambutannya, Dekan FIB UNAIR Prof. Purnawan Basundoro menyampaikan dorongan agar pemerintah kota, komunitas, dan berbagai pihak dapat berkolaborasi dalam penyusunan konten ensiklopedia.

Menurut Prof. Purnawan, proses pendataan dan penulisan sebagai bahan pembelajaran bukan pekerjaan mudah dan memerlukan inisiatif serta kerja sama banyak pihak. Ia juga menyebut FIB memiliki kekuatan dalam penggunaan bahasa asing. Karena itu, konten ensiklopedia budaya Surabaya direncanakan ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Prancis, dan Jawa-Arek, sehingga dapat dimanfaatkan pula oleh masyarakat luar negeri.

Koordinator Pengabdian kepada Masyarakat Ensiklopedia FIB, Kukuh Yudha Karnanta, S.S., M.A., mengatakan ensiklopedia memiliki keterkaitan erat dengan Gerakan Literasi Nasional, khususnya literasi budaya dan kewargaan. Atas dasar itu, ia menilai kegiatan tersebut penting untuk dilakukan.

Sebagai mitra sekaligus salah satu pemateri, Ir. Musdiq Ali Suhudi, M.T., memaparkan ragam budaya yang ada di Surabaya, seperti sedekah bumi, gulat okol, hingga jula-juli. Ia menyebut ensiklopedia kebudayaan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mencegah pudarnya budaya akibat modernisasi.

Musdiq yang juga Kepala Dispusip Kota Surabaya menjelaskan bahwa ensiklopedia menyajikan tulisan bersifat ilmiah populer. Artinya, bahasa yang digunakan mudah dipahami, namun isi tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam gerakan literasi. Beberapa inovasi yang telah banyak dimanfaatkan di Surabaya antara lain Virtual Tour, Taman Kalimas, dan e-TBM. Menurutnya, Dispusip sebagai sumber informasi melakukan berbagai upaya untuk menginventarisasi, mendokumentasikan, dan memublikasikan kekayaan budaya Surabaya agar dapat dinikmati serta digunakan sebagai bahan edukasi publik. Dalam pelaksanaannya, diperlukan pengelolaan inovasi yang memanfaatkan teknologi informasi, termasuk media.

Kegiatan ini juga dikaitkan dengan program Gerakan Literasi Nasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta mandat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Salah satu tujuannya adalah memperkuat ketahanan budaya agar lebih kompetitif menghadapi globalisasi, pengaruh budaya asing, serta mendukung revitalisasi warisan budaya, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.