Hoaks yang mempromosikan situs judi online (judol) kembali marak beredar di media sosial dan aplikasi percakapan. Dalam sejumlah unggahan, pelaku mencatut nama dan sosok tokoh ternama untuk meyakinkan publik agar mengakses situs tertentu.
Berikut beberapa contoh hoaks promosi judol yang ditemukan beredar dalam bentuk video maupun audio.
1. Video yang diklaim menampilkan Hotman Paris mempromosikan situs judol
Tim Cek Fakta menemukan unggahan video yang menampilkan pengacara Hotman Paris dengan klaim sedang mempromosikan situs judol tertentu agar masyarakat tidak rugi. Salah satu unggahan disebut beredar di Facebook dan diposting pada 15 November 2025.
Video berdurasi 43 detik itu disertai narasi singkat “INFO AQ1++”. Klaim dalam unggahan tersebut menyatakan Hotman Paris mengarahkan publik untuk menggunakan situs judol tertentu.
2. Video wawancara di stasiun TV berita yang audionya diklaim mempromosikan situs judol
Hoaks lain beredar berupa potongan video wawancara di sebuah stasiun TV berita. Dalam unggahan tersebut, seorang narasumber yang mengenakan jaket berpenutup kepala dan kacamata terdengar mempromosikan situs judol tertentu, termasuk menyebut klaim kemenangan dan pembayaran yang “pasti dibayar”.
Salah satu unggahan disebut diposting di Facebook pada 9 Januari 2025, dengan tambahan narasi “Mari kita Dengar Cerita Seorang yang Kecanduan”. Dalam temuan Cek Fakta, audio promosi dalam video tersebut merupakan modifikasi.
3. Video yang diklaim menampilkan Raffi Ahmad mempromosikan situs judol “pasti menang”
Selain itu, beredar pula video yang mengklaim menampilkan Raffi Ahmad sedang mempromosikan situs judi online tertentu. Salah satu unggahan disebut diposting di Facebook pada 1 November 2025.
Dalam video itu, Raffi Ahmad diklaim mengatakan situs tersebut dibuat untuk “berbagi” sehingga pengguna tidak akan kalah, serta mengajak masyarakat membagikan alamat situs. Unggahan tersebut disertai narasi: “Percaya bahwa kamu bisa, lalu buktikan. Kesempatan datang pada yang berani melangkah.”
Rangkaian contoh di atas menunjukkan pola hoaks promosi judol yang memanfaatkan figur publik atau potongan tayangan media untuk memperkuat kesan seolah-olah informasi tersebut benar. Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap konten yang mengarahkan ke situs tertentu, terutama jika disertai klaim keuntungan berlebihan atau ajakan menyebarkan tautan.

