Kemiskinan berbasis gender masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Perempuan dinilai kerap menghadapi hambatan untuk memperoleh pendapatan yang memadai, sehingga lebih rentan terdampak kondisi ekonomi yang sulit.
Isu tersebut dibahas dalam program Pengarus Utamaan Gender di Pro 1 RRI Sibolga, Rabu (25/2/2026). Dalam pembahasan itu, keterbatasan akses terhadap pendidikan, pekerjaan yang layak, serta sumber permodalan disebut menjadi faktor yang memperkuat kerentanan ekonomi perempuan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak semata-mata berkaitan dengan rendahnya penghasilan, tetapi juga dipengaruhi ketidaksetaraan kesempatan antara laki-laki dan perempuan.
Basaria, pemerhati isu sosial, menilai upaya pengurangan kemiskinan perlu melihat kondisi perempuan secara nyata. Menurutnya, perempuan memerlukan perhatian khusus agar dapat keluar dari kemiskinan.
“Kemiskinan yang dialami perempuan nggak cukup cuma diberi bantuan sesekali. Tapi aturan dan programnya juga harus diubah,” kata Basaria.
Ia menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesenjangan tersebut, salah satunya meningkatkan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi perempuan agar daya saing mereka di dunia kerja semakin kuat.
“Jika akses pendidikan, pekerjaan, dan modal dibuka secara adil. Perempuan miliki kemampuan yang sama, agar keluar dari kemiskinan,” ujarnya.

