Klaim Dirjen Bimas Hindu Bagikan Bantuan Rp 15,2 Miliar Disebut Hoaks, Video Terindikasi Manipulasi AI

Klaim Dirjen Bimas Hindu Bagikan Bantuan Rp 15,2 Miliar Disebut Hoaks, Video Terindikasi Manipulasi AI

Sebuah unggahan di media sosial menarasikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama (Kemenag), I Nengah Duija, mengumumkan penyaluran bantuan senilai Rp 15,2 miliar. Konten tersebut beredar dalam bentuk video yang menampilkan sosok presenter televisi dan cuplikan prosesi pemberian bantuan.

Namun, hasil penelusuran menunjukkan klaim itu tidak benar. Konten yang beredar terindikasi merupakan hasil manipulasi dan narasinya dinyatakan hoaks.

Video tersebut dibagikan oleh sejumlah akun Facebook. Dalam unggahan, presenter yang ditampilkan seolah menyampaikan informasi adanya bantuan Rp 15,2 miliar yang disalurkan oleh Bimas Hindu Kemenag. Unggahan juga menyertakan ajakan pendaftaran dan mengarahkan audiens untuk mengikuti instruksi melalui akun tertentu.

Saat ditelusuri, tidak ditemukan informasi di media sosial Direktorat Jenderal Bimas Hindu yang menyebutkan adanya program pembagian dana bantuan Rp 15,2 miliar.

Tim Cek Fakta Kompas.com kemudian memeriksa keaslian suara presenter dalam video menggunakan Hive Moderation. Hasilnya, suara tersebut terdeteksi dihasilkan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan probabilitas 95,6 persen.

Selain itu, cuplikan video prosesi penyaluran bantuan yang digunakan dalam unggahan diketahui mencatut konten dari Instagram Bupati Badung, Bali, I Wayan Adi Arnawa. Video asli merupakan momen ketika I Wayan Adi Arnawa bersama Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menyalurkan bantuan sosial Rp 2 juta kepada kepala keluarga beragama Hindu di Kecamatan Petang dan Abiansemal, dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Hingga kini, tidak ada informasi valid yang menyatakan Dirjen Bimas Hindu Kemenag mengadakan program bantuan senilai Rp 15,2 miliar. Unggahan tersebut juga dinilai mengarah pada penipuan, sehingga masyarakat diimbau untuk waspada dan tidak menyerahkan informasi apa pun, terutama data pribadi.

Sebelumnya, konten manipulasi serupa juga sempat beredar di media sosial dengan mencatut nama pejabat pada direktorat lain.