Drama Korea My Perfect Stranger menampilkan sejumlah isu sosial yang berkaitan dengan pengalaman perempuan, khususnya dalam latar waktu era 1980-an. Melalui beberapa tokoh dan konflik yang mereka hadapi, cerita menyinggung berbagai bentuk ketimpangan, kekerasan, hingga stigma yang kerap melekat pada perempuan.
1. Pembatasan akses pendidikan bagi perempuan
Pada 1980-an, perempuan digambarkan masih menghadapi hambatan untuk mengenyam pendidikan tinggi setara laki-laki. Anggapan bahwa perempuan sebaiknya segera menikah masih kuat. Situasi ini juga dialami Lee Soon Ae (Seo Ji Hye), yang menghadapi realitas bahwa keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tidak mendapatkan dukungan penuh.
2. Perbedaan perlakuan anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga
Impian Lee Soon Ae untuk kuliah sempat ditentang orangtuanya, yang lebih mendukung adiknya—seorang laki-laki—untuk melanjutkan pendidikan. Perlakuan yang terlihat lebih memihak anak laki-laki juga muncul dalam kisah Go Mi Sook (Ji Hye Won). Ibunya ditampilkan lebih menyayangi anak sulung laki-laki, meski sang kakak kerap membuat masalah dan bahkan memukul Go Mi Sook.
3. Korban pembunuhan berantai adalah perempuan
Dalam alur kriminal di drama ini, korban pembunuhan berantai digambarkan merupakan perempuan. Cerita mengaitkan hal tersebut dengan trauma pelaku terhadap sosok ibu. Namun, di sisi lain, pemilihan korban perempuan turut menyinggung pandangan bahwa perempuan dianggap lebih lemah dan karenanya rentan menjadi sasaran kejahatan.
4. Kekerasan fisik hingga seksual terhadap perempuan
Drama ini juga menampilkan bentuk kekerasan yang dialami perempuan, termasuk kekerasan fisik dan seksual. Dalam gambaran masyarakat yang misoginis, perempuan kerap diposisikan lebih rendah daripada laki-laki sehingga rentan diperlakukan kasar. Hal ini terutama tercermin pada tokoh Go Min Soo (Kim Yeon Woo).
5. Stigma negatif terhadap ibu tunggal
Status janda atau ibu tunggal digambarkan masih kerap dipandang negatif. Kim Hae Kyung (Kim Ye Ji) ditampilkan gusar ketika mengetahui ibunya dihina karena menjadi single mom. Sang ibu bahkan dituduh menggoda suami orang, padahal pria tersebut yang justru bersikap tidak sopan dan berusaha melecehkannya.
Melalui berbagai konflik yang dihadirkan, My Perfect Stranger memotret tantangan yang dihadapi perempuan pada era 1980-an, mulai dari pembatasan pendidikan, diskriminasi dalam keluarga, hingga kekerasan dan stigma sosial. Gambaran ini memperlihatkan bagaimana ketimpangan gender dapat hadir dalam beragam bentuk di kehidupan sehari-hari.

