BERITA TERKINI
Momen-Momen Kritis Menjelang Reformasi 1998 dalam Foto dan Catatan

Momen-Momen Kritis Menjelang Reformasi 1998 dalam Foto dan Catatan

Peristiwa Reformasi 1998 menjadi babak penting dalam sejarah Indonesia yang mengakhiri rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Fotografer Erik Prasetya mengabadikan berbagai momen penting selama periode kritis tersebut, mulai dari krisis moneter hingga jatuhnya Soeharto. Berikut rangkuman peristiwa yang terekam dan catatan yang menyertai foto-foto tersebut.

Krisis Moneter dan Dampaknya

Memasuki pertengahan 1997, Indonesia dilanda krisis moneter yang membuat nilai rupiah merosot tajam dari sekitar Rp2.200 menjadi berkisar Rp12.000 hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Meskipun kondisi ekonomi memburuk, pemerintah Soeharto menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak, yang semakin membebani masyarakat. Untuk mengatasi kekurangan pangan, Soeharto bahkan mengkampanyekan konsumsi tiwul melalui televisi, sementara dirinya tetap melakukan kunjungan luar negeri, termasuk berobat ke Jerman.

Kemiskinan yang Tersembunyi

Pada Sidang Umum MPR tahun 1998, Soeharto dianugerahi gelar Bapak Pembangunan atas pencapaian ekonomi selama masa pemerintahannya. Namun, di balik angka peningkatan pendapatan per kapita dan ekspor, kemiskinan masih sangat meluas. Data Bappenas pada 1993 menunjukkan sekitar 27 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan berdasarkan penghasilan Rp20.000 per bulan. Jika menggunakan standar kebutuhan minimum Rp80.000 per bulan, hampir 90 persen penduduk Indonesia termasuk miskin.

Peran Gerakan Mahasiswa dan Aktivisme

Gerakan mahasiswa menjadi salah satu pendorong utama perubahan yang konsisten menentang Orde Baru sejak awal 1970-an. Aksi mereka meliputi penolakan pemilu yang dianggap tidak demokratis, solidaritas terhadap petani yang digusur, hingga menuntut pertanggungjawaban Soeharto atas pelanggaran konstitusi. Pada Mei 1998, eskalasi aksi mahasiswa meluas dari kampus ke jalanan di berbagai kota, menandai puncak perlawanan terhadap rezim.

Ketegangan di Tapos dan Penculikan Aktivis

Di kawasan Tapos, tanah petani direbut paksa untuk kepentingan keluarga Soeharto, termasuk pembangunan peternakan dan berbagai proyek pertanian. Para petani yang melawan menghadapi kekerasan aparat, termasuk kasus penganiayaan berat terhadap Haji Dodo.

Selain itu, periode 1997-1998 juga ditandai dengan penculikan paksa terhadap aktivis pro-demokrasi oleh aparat negara. Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KONTRAS) mencatat 23 kasus penculikan, dengan sebagian korban masih hilang hingga kini. Meskipun beberapa pelaku diadili, tokoh-tokoh penting seperti Prabowo Subianto tidak pernah diadili secara hukum.

Partai Rakyat Demokratik dan Organisasi Mahasiswa

Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang beranggotakan banyak aktivis muda dan intelektual, menjadi salah satu kelompok yang menentang Orde Baru. Meski sempat dilarang dan anggotanya mengalami penindasan, PRD kemudian diakui dan mengikuti Pemilu 1999 setelah reformasi.

Di sisi lain, Forum Kota (FORKOT) yang terdiri dari mahasiswa berbagai kampus juga aktif dalam demonstrasi yang sering berujung bentrokan dengan aparat. Aksi mereka menuntut penghapusan dwifungsi TNI, penolakan Sidang Istimewa MPR, dan penolakan RUU PKB.

Dukungan dari Berbagai Elemen Masyarakat

Seiring dengan meningkatnya aksi mahasiswa, dukungan datang dari berbagai kalangan, termasuk elite politik, organisasi buruh, dan masyarakat umum. Di gedung MPR yang dikuasai mahasiswa, banyak warga yang menyumbang kebutuhan bagi para demonstran, menggambarkan solidaritas yang luas di tengah krisis.

Peran Perempuan dalam Gerakan Reformasi

Gerakan perempuan juga turut aktif dalam reformasi, meskipun sebelumnya telah dikontrol oleh negara melalui organisasi seperti Dharma Wanita dan Kowani. Pada 1997-1998, aktivis perempuan membentuk Koalisi Perempuan Indonesia dan kelompok Suara Ibu Peduli yang menuntut penurunan harga susu, meski aksi mereka berujung interogasi dan pengadilan.

Peristiwa Penting Mei 1998

  • 12 Mei: Peluncuran novel Saman karya Ayu Utami yang kontroversial dan dianggap sebagai suara zaman yang menolak rezim Orde Baru, tetap berlangsung meski terjadi penembakan terhadap mahasiswa Trisakti.
  • 12 Mei: Penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti saat aksi damai menuju gedung DPR/MPR, menewaskan Elang Mulya, Hendrawan Sie, Herry Hertanto, dan Hafidin Royan.
  • 13-15 Mei: Pemakaman para mahasiswa yang gugur diikuti dengan kerusuhan dan penjarahan meluas di Jakarta dan sejumlah daerah lain, menimbulkan kerugian materiil sangat besar dan korban jiwa yang signifikan.
  • 16 Mei: Kasus pembunuhan Ita Martadinata, anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan yang aktif menginvestigasi kekerasan terhadap perempuan Tionghoa selama kerusuhan, menjadi ancaman serius bagi aktivis kemanusiaan saat itu.
  • 18 Mei: Ribuan mahasiswa mulai menduduki gedung DPR/MPR, menuntut pengunduran diri Soeharto.
  • 19 Mei: Tekanan politik semakin meningkat dengan pengunduran diri sejumlah menteri dan desakan dari ketua MPR agar Soeharto mundur secara arif.
  • 20 Mei: Sidang terhadap enam tahanan politik berlangsung dan mereka dibebaskan sehari sebelum pengunduran diri Soeharto.
  • 21 Mei: Soeharto resmi mengumumkan pengunduran diri sebagai Presiden RI, menandai berakhirnya rezim Orde Baru dan dimulainya era reformasi dengan BJ Habibie sebagai penggantinya.

Tuntutan Reformasi

  • Penegakan supremasi hukum
  • Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN)
  • Pengadilan terhadap Soeharto dan kroninya
  • Pencabutan dwifungsi ABRI/Polri
  • Pemberian otonomi daerah

Perjalanan reformasi tersebut membuka banyak pertanyaan mengenai masa depan bangsa, termasuk kemungkinan terpecahnya Indonesia, munculnya tirani baru, atau keberhasilan reformasi itu sendiri. Namun, semangat dan perjuangan yang terekam dalam foto dan catatan ini menjadi saksi penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia.