Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyelenggarakan rangkaian dialog publik bersama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) di tiga kota, yakni Solo, Jakarta, dan Surabaya. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dialog publik berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada 22–24 November 2023. Rangkaian acara dimulai dengan pasangan capres-cawapres nomor urut 1 pada hari pertama, dilanjutkan pasangan nomor urut 3 pada hari kedua, dan ditutup oleh capres nomor urut 2 pada hari terakhir.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam sejumlah sambutan menegaskan bahwa dialog publik ini merupakan wujud pendidikan politik, bukan hanya bagi masyarakat luas, tetapi juga bagi para kontestan pemilu. Menurutnya, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kapasitas masing-masing pasangan, sementara capres-cawapres dapat melihat langsung gambaran kondisi bangsa melalui suara publik.
Haedar menyebut dialog tersebut diharapkan menjadi ruang silaturahmi untuk memahami “peta kebangsaan” Indonesia saat ini. Muhammadiyah, kata dia, ingin memfasilitasi para kontestan pilpres agar dapat menerka peta kebangsaan secara lebih jernih dan objektif, terutama dengan perspektif keadilan sosial. Ia menilai pemahaman itu penting agar siapa pun yang kelak memimpin tidak mengalami ketercerabutan sosial, budaya, dan politik dari warga bangsa.
Dalam pandangannya, para pendiri bangsa mendirikan Indonesia untuk mewujudkan “Indonesia yang bernyawa”, yakni negara yang memiliki semangat memajukan kehidupan bangsa dan dunia. Karena itu, Haedar menekankan perlunya pemimpin memahami tantangan kebangsaan secara utuh dengan tujuan memajukan kehidupan bangsa dan negara.
Haedar juga menyoroti pentingnya sikap kenegarawanan dan keutamaan politik dari setiap pasangan capres-cawapres. Ia menilai kepentingan nasional, kesejahteraan, dan kemajuan warga bangsa merupakan tujuan dari seluruh rangkaian politik elektoral. Ia mengingatkan agar pemilu ditempuh dengan cara-cara bermartabat, dan dukung-mendukung dalam pemilu tidak mencederai martabat kemanusiaan maupun kepentingan nasional.
Selama tiga hari dialog, setiap pasangan kontestan Pilpres 2024 mendapatkan panggung yang sama untuk memaparkan visi, misi, dan program. Panelis yang terdiri dari unsur Persyarikatan, akademisi, pakar, dan praktisi berperan menjembatani aspirasi masyarakat serta mengangkat isu-isu yang dinilai penting. Para panelis menggali gagasan, strategi, dan terobosan dari masing-masing pasangan, termasuk cara mereka memandang persoalan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan hidup, serta hukum dan HAM.
Dialog publik ini juga dimaknai sebagai upaya memoderasi kontestasi pilpres dengan mengembalikan kualitas perdebatan publik pada pertarungan gagasan. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, yang memoderatori dialog, menyatakan kegiatan ini dimaksudkan sebagai literasi dan edukasi politik. “Diskusi publik ini bukan ujian bagi para kontestan, tapi literasi dan edukasi politik,” ujar Mu’ti.
Mu’ti mengatakan Muhammadiyah ingin mendengar pemaparan setiap pasangan mengenai arah bangsa dan langkah yang akan ditempuh dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia berharap dialog semacam ini membantu warga menentukan pilihan secara rasional dan komprehensif, sehingga pemilih tidak menjadi sekadar objek dalam proses politik elektoral. Di sisi lain, para kontestan diharapkan memperoleh masukan dari panelis maupun penanya untuk mematangkan langkah berikutnya.
Dalam rangkaian kegiatan, masing-masing pasangan menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah. Pada hari pertama di UMS, pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar menyampaikan kesan positif terhadap forum tersebut. “Kami terkesan, ada antusiasme tapi juga bisa sangat tertib. Kami sangat sepakat dengan forum ini sebagai tempat pertukaran gagasan karena itu yang penting,” kata Anies.
Pada hari kedua di UMJ, pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menyampaikan terima kasih atas undangan Muhammadiyah. “Kami mengucapkan terima kasih pada hari ini bisa menyampaikan gagasan kami kepada keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah,” ujar Ganjar, yang juga menyinggung kiprah Muhammadiyah selama satu abad.
Hari terakhir di Universitas Muhammadiyah Surabaya, capres nomor urut 2 Prabowo Subianto turut menyampaikan apresiasi. “Negara ini, kalau Muhammadiyah dan NU sudah mantap, (maka negara pun – red) akan mantab. Hari ini saya merasa sangat nyaman dengan keluarga besar Muhammadiyah,” ucap Prabowo, sembari menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Gibran Rakabuming Raka.
Ketiga pasangan capres-cawapres kompak menilai langkah Muhammadiyah membuka ruang dialog sebagai upaya positif. Mereka juga menyinggung peran kebangsaan Muhammadiyah yang dinilai penting bagi eksistensi Republik Indonesia, termasuk kontribusi di bidang pendidikan, layanan sosial, kesehatan, serta pemikiran kebangsaan seperti konsep darul ahdi wa syahadah.

