Nama Muhaimin Iskandar kembali memantik percakapan luas menjelang Muktamar NU.
Pernyataannya tegas, bahkan terdengar seperti garis batas.
NU, kata Cak Imin, bukan organisasi politik.
Ia meminta pihak yang “berpolitik” di internal PBNU sebaiknya keluar.
Kalimat itu bergema karena NU bukan sekadar organisasi.
NU adalah rumah kultural jutaan warga, juga simpul sosial yang menautkan pesantren, kampung, dan kota.
Di situlah isu ini menjadi tren.
Publik menangkapnya sebagai peringatan, sekaligus sebagai cermin ketegangan lama antara khidmah dan kuasa.
-000-
Isu yang Mengangkatnya ke Puncak Perbincangan
Pernyataan Cak Imin disampaikan setelah Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Ploso, Kediri.
Forum itu penting karena menjadi penanda jelang Muktamar ke-35 PBNU.
Di ruang seperti itu, setiap kalimat tokoh besar mudah dibaca sebagai sinyal.
Bukan hanya sinyal etika, tetapi juga sinyal arah.
Cak Imin menyebut NU “lesehan dan menyatu tanpa ketegangan.”
Ia menggambarkan NU sebagai “orkestrasi kultural” yang menyatukan, bukan arena kompetisi.
Pilihan kata itu membuat publik berhenti sejenak.
Karena di banyak ruang sosial Indonesia, kompetisi politik kerap merembes ke ruang kultural.
Dan ketika itu terjadi, yang retak bukan hanya struktur.
Yang retak adalah rasa aman sebagai sesama.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, NU adalah institusi sosial yang sangat dekat dengan keseharian.
Ketika NU disebut bukan organisasi politik, publik merasa sedang membicarakan batas yang menyentuh hidupnya sendiri.
Di banyak keluarga, NU bukan label, melainkan tradisi.
Tradisi itu ingin dilindungi dari pertengkaran yang terasa asing.
Kedua, pernyataan itu muncul menjelang muktamar yang dipercepat.
Percepatan jadwal selalu memicu spekulasi, sekalipun publik tidak memegang detail internal.
Di ruang digital, spekulasi sering bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.
Ucapan tegas menjadi bahan tafsir berlapis.
Ketiga, publik masih mengingat kabar perpecahan internal PBNU.
Nama Rais Aam Miftachul Akhyar, Gus Yahya, hingga Gus Ipul sempat disebut dalam pusaran konflik.
Meski disebut sudah selesai, ingatan sosial tidak mudah ditutup.
Karena yang selesai secara administratif, belum tentu selesai secara emosional.
-000-
Garis Batas yang Selalu Sulit: Khidmah dan Kompetisi
Seruan “yang berpolitik silakan di partai” terdengar sederhana.
Namun, batas antara politik dan kehidupan sosial jarang benar-benar bersih.
NU hidup dalam masyarakat, sementara masyarakat hidup dalam keputusan politik.
Karena itu, yang dipersoalkan bukan sekadar hadir atau tidak hadirnya politik.
Yang dipersoalkan adalah bentuknya.
Apakah politik menjadi sarana memperluas kemaslahatan.
Atau politik menjadi cara menyingkirkan sesama dengan label, kubu, dan rumor.
Cak Imin menolak NU menjadi organisasi yang “selalu kompetitif.”
Ia seakan mengingatkan bahwa kompetisi yang tak terkendali mengubah saudara menjadi lawan.
Dan ketika itu terjadi, organisasi kultural kehilangan napasnya.
-000-
Seruan Persatuan dari PBNU dan Bayang-Bayang Kontroversi
Dalam forum yang sama, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyerukan semangat persatuan.
Ia meminta proses menuju muktamar berjalan penuh kebaikan dan kejujuran.
Ia juga meminta agar tidak menciptakan kontroversi.
Kalimat itu terdengar seperti pagar.
Pagar yang dipasang karena ada pengalaman sebelumnya.
PBNU sempat mengalami perpecahan internal.
Konflik itu disebut berakhir dengan kesepakatan mempercepat muktamar pada Agustus mendatang.
Seharusnya, muktamar berlangsung pada Desember 2026.
Perubahan jadwal itu menjadi konteks yang membuat publik makin peka.
Setiap pernyataan lalu dibaca sebagai penegasan posisi.
-000-
Kerinduan pada Hasyim Muzadi dan Makna Nostalgia Politik-Kultural
Di ujung pernyataannya, Cak Imin menyebut kerinduannya pada Hasyim Muzadi.
“Kangen Pak Hasyim Muzadi, rek!” katanya.
Kerinduan seperti itu bukan sekadar romantika personal.
Dalam organisasi besar, nostalgia sering menjadi bahasa untuk menyebut hilangnya keteduhan.
Ia juga bisa menjadi cara mengingatkan tentang gaya kepemimpinan yang dianggap merangkul.
Namun nostalgia juga berisiko.
Ia dapat memecah orang menjadi dua barisan: yang merindukan masa lalu, dan yang ingin memaknai masa kini.
Di sinilah NU diuji.
Mampukah ia menghormati ingatan tanpa terjebak dalam pertarungan tafsir.
-000-
Isu Besar Indonesia: Demokrasi, Polarisasi, dan Kesehatan Ruang Publik
Perdebatan tentang NU dan politik berkait langsung dengan isu besar Indonesia.
Yakni kualitas demokrasi dan kesehatan ruang publik.
Demokrasi membutuhkan partisipasi, tetapi juga membutuhkan etika.
Ketika etika melemah, partisipasi berubah menjadi perang identitas.
Organisasi keagamaan dan kultural sering menjadi benteng terakhir ketika politik terlalu bising.
Jika benteng itu ikut bising, masyarakat kehilangan ruang teduh.
Di level akar rumput, konflik elite mudah menetes menjadi kecurigaan antarjamaah.
Ia menyusup ke grup keluarga, majelis, dan pertemanan lama.
Indonesia pernah merasakan betapa mahalnya biaya polarisasi.
Karena itu, seruan agar NU tidak menjadi arena kompetisi dibaca sebagai alarm sosial.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Organisasi Kultural Rentan Terseret Politik
Ilmu sosial memberi kerangka untuk memahami mengapa isu seperti ini berulang.
Salah satunya melalui konsep identitas sosial.
Riset klasik Henri Tajfel dan John Turner menjelaskan bahwa manusia cenderung membentuk “ingroup” dan “outgroup.”
Ketika kontestasi menguat, identitas kelompok mudah mengeras.
Dalam organisasi besar, identitas itu bisa menempel pada figur, bukan pada gagasan.
Akibatnya, perbedaan pandangan dibaca sebagai ancaman.
Riset lain yang sering dibahas dalam studi organisasi adalah konflik faksional.
Faksi muncul ketika jaringan, loyalitas, dan akses sumber daya diperebutkan.
Dalam konteks muktamar, perebutan pengaruh dapat terasa seperti perebutan arah masa depan.
Karena itu, seruan “jangan menciptakan kontroversi” menjadi penting sebagai rem sosial.
Rem itu bukan untuk mematikan kritik.
Rem itu untuk mencegah kritik berubah menjadi pembelahan permanen.
-000-
Rujukan Luar Negeri: Ketegangan Serupa dalam Institusi Keagamaan
Isu tarikan politik dalam institusi keagamaan bukan hanya cerita Indonesia.
Di banyak negara, gereja, sinagoga, dan organisasi keagamaan menghadapi dilema serupa.
Di Amerika Serikat, misalnya, polarisasi politik sering merembes ke komunitas gereja.
Sejumlah laporan media internasional dalam beberapa tahun terakhir menggambarkan jemaat terbelah karena pilihan politik.
Perdebatan bukan lagi soal pelayanan, tetapi soal kandidat dan ideologi.
Di Irlandia Utara pada masa konflik sektarian, identitas keagamaan dan politik bertaut erat.
Ikatan itu memperdalam pembelahan sosial dan memperpanjang luka kolektif.
Perbandingan ini tidak dimaksudkan menyamakan konteks.
Namun ia membantu melihat pola.
Ketika institusi moral terseret kontestasi, biaya sosialnya sering dibayar oleh warga biasa.
-000-
Membaca Pernyataan Cak Imin Secara Netral
Pernyataan Cak Imin dapat dibaca sebagai ajakan menjaga marwah NU.
Ia menegaskan NU sebagai ruang merangkul.
Ia juga menyiratkan kekhawatiran bahwa politik internal bisa memunculkan perpecahan.
Di sisi lain, publik juga bisa bertanya bagaimana definisi “berpolitik” dipahami.
Apakah yang dimaksud adalah aktivitas partisan.
Atau sekadar perbedaan sikap dan preferensi dalam proses organisasi.
Pertanyaan ini wajar karena bahasa politik sering lentur.
Kelenturan itu kadang dipakai untuk menertibkan, kadang dipakai untuk menyingkirkan.
Karena itu, seruan moral perlu disertai prosedur yang adil.
Agar “keluar” tidak berubah menjadi stigma.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, bedakan kritik terhadap perilaku politik dengan pelabelan terhadap orang.
NU dapat menegaskan etika tanpa mengubah perbedaan menjadi permusuhan.
Kedua, dorong transparansi proses menuju muktamar.
Transparansi mengurangi ruang rumor, dan rumor adalah bahan bakar polarisasi.
Ketiga, perkuat narasi khidmah.
Jika orientasi kembali pada pelayanan jamaah, kompetisi akan lebih mudah dikelola.
Keempat, publik sebaiknya menahan diri dari menyebarkan potongan pernyataan tanpa konteks.
Potongan kalimat sering memanaskan suasana, padahal problemnya menuntut kejernihan.
Kelima, para tokoh sebaiknya menjaga bahasa.
Bahasa yang merangkul dapat menurunkan tensi, tanpa mengurangi ketegasan prinsip.
-000-
Penutup: Menjaga Rumah Besar Tetap Teduh
NU disebut Cak Imin sebagai “lesehan,” sebuah metafora tentang kesetaraan dan kedekatan.
Metafora itu terasa kuat karena Indonesia sedang merindukan ruang bersama.
Ruang yang tidak memaksa orang memilih kubu untuk tetap dianggap saudara.
Menjelang muktamar, NU menghadapi ujian klasik organisasi besar.
Bagaimana mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa saling memiliki.
Di titik ini, seruan persatuan dari Gus Yahya dan peringatan Cak Imin bertemu pada satu kebutuhan.
Menjaga agar permusyawaratan tidak berubah menjadi pertarungan.
Karena ketika rumah bersama retak, yang tercecer bukan hanya struktur.
Yang tercecer adalah kepercayaan.
Dan kepercayaan selalu lebih sulit dipulihkan daripada jabatan.
Seperti pesan yang sering diulang dalam banyak tradisi kebijaksanaan, “Persatuan bukan berarti seragam, melainkan kemampuan menjaga hormat di tengah perbedaan.”

