Politik Sepekan: Penganugerahan Pahlawan Nasional, Pro-Kontra Soeharto, hingga Prabowo Temui Dua Guru ASN

Politik Sepekan: Penganugerahan Pahlawan Nasional, Pro-Kontra Soeharto, hingga Prabowo Temui Dua Guru ASN

Sejumlah peristiwa politik mewarnai sepekan terakhir, dari Senin (10/11) hingga Minggu (16/11) pagi. Agenda kenegaraan di Istana, respons atas pro-kontra penganugerahan gelar pahlawan, hingga pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan dua guru aparatur sipil negara (ASN) menjadi beberapa sorotan utama.

Di Istana Kepresidenan, Jakarta, perwakilan keluarga dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah menghadiri penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 kepada sejumlah tokoh yang dinilai berjasa besar bagi bangsa dan negara. Salah satu yang hadir adalah Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, yang datang ke kompleks Istana sekitar pukul 09.00 WIB, Senin (10/11).

Dalam rangkaian penganugerahan tersebut, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh. Upacara berlangsung di Istana Jakarta pada Senin (10/11), diawali prosesi mengheningkan cipta untuk arwah para pahlawan yang dipimpin langsung Presiden.

Masih terkait penganugerahan gelar pahlawan, putri Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti (Tutut Soeharto), menanggapi pro dan kontra yang muncul di masyarakat mengenai rencana penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada ayahnya. Dalam pernyataan di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10), Tutut—didampingi Bambang Trihatmodjo—menyebut perbedaan pandangan, termasuk isu stigma korupsi hingga HAM, sebagai hal yang wajar dalam dinamika demokrasi.

Dari agenda lain, Presiden Prabowo Subianto setibanya di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (13/11) dini hari, langsung bertemu dua guru ASN asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Keduanya diberhentikan setelah melakukan pungutan iuran untuk membantu membayarkan gaji 10 guru honorer. Pertemuan itu difasilitasi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang berkoordinasi dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Di bidang pertahanan dan kemanusiaan, TNI menyatakan telah menyiapkan peralatan khusus kesehatan untuk dikirim bersama pasukan perdamaian ke Gaza. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah menyebut peralatan itu mencakup rumah sakit lapangan hingga ambulans, yang disiapkan bersamaan dengan rencana pengiriman 20.000 personel TNI dari unsur kesehatan dan Zeni Konstruksi.