Pramono Mengenang Rachmat Gobel: Ketika Sosok Perekat Politik Menjadi Kerinduan Publik

Pramono Mengenang Rachmat Gobel: Ketika Sosok Perekat Politik Menjadi Kerinduan Publik

Nama Rachmat Gobel mendadak ramai dibicarakan di ruang digital Indonesia.

Pemicunya adalah pernyataan Pramono yang mengenang Gobel sebagai “orang baik” dan “perekat banyak kelompok politik”.

Kalimat itu sederhana, namun memantul jauh.

Di tengah politik yang sering terasa bising, publik menangkap satu kata kunci yang langka: perekat.

Tren ini bukan sekadar tentang satu sosok.

Ia juga tentang rasa rindu pada gaya berpolitik yang menenangkan, bukan memecah.

-000-

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Pernyataan Pramono bekerja seperti tombol memori kolektif.

Publik segera mengaitkannya dengan pertanyaan besar: masih adakah figur yang bisa menjembatani perbedaan?

Di era media sosial, kalimat singkat mudah menjadi pemantik percakapan.

Terutama jika kalimat itu menyentuh kebutuhan emosional banyak orang.

Dalam konteks ini, kebutuhan itu adalah stabilitas, keteduhan, dan kemampuan merawat perbedaan.

Tren juga lahir karena narasi “orang baik” terasa kontras dengan pengalaman publik menyaksikan kerasnya kompetisi politik.

Kontras memancing perhatian.

Kontras juga memancing refleksi.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Ramai

Pertama, ada daya tarik pada figur yang disebut lintas kelompok.

Ketika Pramono menyebut Gobel sebagai perekat banyak kelompok politik, publik membaca pesan tentang jembatan yang jarang terlihat.

Jembatan menjadi penting saat polarisasi menjadi kosakata harian.

Di situ, kenangan personal berubah menjadi isu publik.

Kedua, publik menyukai cerita yang menampilkan kebajikan sebagai kekuatan.

Label “orang baik” bukan sekadar pujian moral.

Ia adalah klaim tentang model kepemimpinan.

Model yang tidak bertumpu pada kemarahan, melainkan pada kemampuan merangkul.

Ketiga, percakapan semacam ini mudah menyebar karena relevan dengan kecemasan politik sehari-hari.

Orang ingin percaya bahwa politik tidak harus selalu memusuhi.

Orang juga ingin bukti bahwa kerja sama masih mungkin.

-000-

Makna “Perekat” dalam Politik yang Rapuh

Kata “perekat” terdengar teknis, namun sesungguhnya emosional.

Ia mengandaikan ada bagian-bagian yang berpotensi tercerai.

Ia juga mengandaikan ada kerja sunyi untuk menahan retakan.

Dalam demokrasi, perbedaan adalah keniscayaan.

Yang sering hilang adalah kemampuan mengelola perbedaan tanpa mengubahnya menjadi permusuhan.

Di titik ini, pujian Pramono membuka ruang diskusi tentang kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia.

Bukan hanya pemimpin yang menang.

Melainkan pemimpin yang menjaga agar yang kalah tetap merasa memiliki rumah.

-000-

Keterkaitan dengan Isu Besar Indonesia

Pertama, isu ini terkait langsung dengan kesehatan demokrasi.

Demokrasi tidak hanya diukur dari pemilu yang berlangsung.

Demokrasi juga diukur dari kemampuan elite dan warga mengelola konflik secara beradab.

Kedua, isu ini menyentuh kualitas institusi politik.

Jika politik bergantung pada “perekat” personal, publik akan bertanya tentang kekuatan sistem.

Sistem yang kuat membuat rekonsiliasi tidak bergantung pada satu figur.

Sistem yang lemah membuat keteduhan menjadi barang langka.

Ketiga, isu ini berkaitan dengan kohesi sosial.

Indonesia hidup dari keberagaman.

Ketika bahasa politik mengeras, getarannya sering merembes ke masyarakat.

Karena itu, figur yang dipersepsikan mampu merangkul menjadi simbol harapan.

-000-

Riset yang Relevan untuk Membaca Fenomena Ini

Ilmu politik mengenal gagasan modal sosial.

Robert Putnam, dalam studi tentang komunitas dan demokrasi, menekankan pentingnya kepercayaan dan jejaring sebagai fondasi kerja sama.

Perekat politik, dalam kacamata ini, adalah pengelola kepercayaan.

Ia menjaga agar jejaring lintas kubu tetap hidup.

Ia mencegah putusnya komunikasi yang membuat prasangka tumbuh.

Ada juga konsep kepemimpinan transformasional.

James MacGregor Burns dan Bernard Bass membahas pemimpin yang menggerakkan orang melalui visi dan nilai, bukan sekadar transaksi kekuasaan.

Dalam narasi “orang baik”, publik sering mencari nilai.

Nilai yang membuat kekuasaan terasa punya arah moral.

Riset tentang polarisasi juga penting.

Dalam banyak kajian, polarisasi meningkat ketika identitas politik menjadi identitas sosial yang dominan.

Ketika itu terjadi, lawan politik dianggap ancaman, bukan mitra debat.

Perekat hadir sebagai penawar.

Bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan menjaga saluran dialog.

-000-

Mengapa Kenangan Personal Bisa Menjadi Agenda Publik

Kenangan adalah bahasa yang mudah dipahami.

Ia tidak menuntut pembaca menguasai detail kebijakan.

Ia mengundang orang masuk melalui emosi.

Di ruang digital, emosi sering menjadi mata uang perhatian.

Namun, emosi tidak selalu buruk.

Emosi bisa menjadi pintu menuju percakapan yang lebih dewasa, jika diarahkan pada refleksi.

Pernyataan Pramono membuka pintu itu.

Pintu untuk membicarakan etika politik, budaya dialog, dan kebutuhan akan pemimpin yang merawat persatuan.

-000-

Referensi Kasus Serupa di Luar Negeri

Di banyak negara, figur “pemersatu” sering dikenang ketika masyarakat merasa terbelah.

Amerika Serikat, misalnya, kerap merujuk pada tradisi “bipartisanship” saat polarisasi meningkat.

Nama-nama yang dianggap mampu bekerja lintas partai sering kembali dibicarakan.

Inggris juga mengenal momen ketika tokoh lintas faksi dipuji karena menjaga stabilitas saat transisi politik.

Dalam berbagai demokrasi, pola yang sama terlihat.

Ketika konflik mengeras, publik mencari simbol moderasi.

Ketika simbol itu muncul dalam berita atau pidato, percakapan digital ikut menyala.

Pola ini membantu membaca tren di Indonesia.

Bukan untuk menyamakan konteks, melainkan untuk memahami mekanisme perhatian publik.

-000-

Analisis: Antara Figur dan Sistem

Pujian tentang “perekat” mengandung dua lapis makna.

Lapis pertama adalah penghormatan personal.

Lapis kedua adalah kritik implisit terhadap kondisi politik yang membutuhkan perekat.

Jika banyak kelompok perlu direkatkan, berarti ada kecenderungan tercerai.

Di sinilah analisis menjadi penting.

Indonesia tidak bisa bergantung pada nostalgia untuk menjaga persatuan.

Nostalgia bisa menghangatkan, tetapi tidak selalu menyelesaikan.

Yang dibutuhkan adalah budaya politik yang membuat sifat “merekatkan” menjadi norma, bukan pengecualian.

Norma itu harus hidup di partai, parlemen, pemerintahan, dan ruang publik.

Tanpa itu, setiap kali muncul konflik, bangsa ini akan kembali mencari satu sosok penyelamat.

-000-

Apa yang Bisa Dipelajari Publik dari Narasi Ini

Pertama, publik bisa menilai politik dari kualitas relasi, bukan hanya hasil perebutan.

Relasi lintas kubu menentukan apakah kebijakan bisa dibahas dengan tenang.

Relasi juga menentukan apakah kritik diperlakukan sebagai masukan atau ancaman.

Kedua, publik bisa mendorong penghargaan pada etika dialog.

Jika orang yang disebut “perekat” dipuji, berarti ada permintaan sosial untuk politik yang beradab.

Permintaan sosial bisa menjadi tekanan positif.

Tekanan itu mendorong politisi memperbaiki cara berkomunikasi.

Ketiga, publik bisa menguji apakah narasi “orang baik” diterjemahkan menjadi praktik kelembagaan.

Misalnya, apakah ada mekanisme musyawarah lintas partai yang konsisten.

Atau apakah rekonsiliasi hanya terjadi saat kamera menyala.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, tanggapi dengan kedewasaan informasi.

Publik sebaiknya membedakan antara penghormatan personal dan klaim politik yang lebih luas.

Keduanya penting, tetapi memerlukan ukuran yang berbeda.

Kedua, jadikan percakapan ini sebagai pintu membangun standar baru.

Jika masyarakat memuji figur perekat, masyarakat juga berhak menuntut perilaku serupa dari elite hari ini.

Standar itu bisa berupa komitmen dialog, penolakan ujaran kebencian, dan penghormatan pada lawan politik.

Ketiga, dorong penguatan institusi.

Partai politik, parlemen, dan pemerintah perlu mekanisme kerja sama yang tahan terhadap pergantian figur.

Dengan begitu, persatuan tidak bergantung pada karisma individu.

Keempat, rawat ruang publik yang sehat.

Media, akademisi, dan masyarakat sipil dapat memperbanyak diskusi yang menolak simplifikasi.

Diskusi yang menempatkan kebajikan sebagai sesuatu yang bisa dilatih, bukan sekadar diwarisi.

-000-

Penutup: Kerinduan yang Perlu Diolah Menjadi Arah

Tren tentang kenangan Pramono pada Rachmat Gobel memperlihatkan sesuatu yang sering luput dibaca.

Publik tidak hanya mengejar sensasi.

Publik juga mencari teladan tentang bagaimana berbeda tanpa saling meniadakan.

Di negara yang majemuk, perekat bukan aksesori.

Perekat adalah syarat agar demokrasi tidak berubah menjadi kompetisi yang melukai kohesi sosial.

Namun, perekat terbaik bukan hanya orang.

Perekat terbaik adalah kebiasaan baik yang dilembagakan.

Ketika politik menjadi lebih dewasa, pujian “orang baik” tidak berhenti sebagai nostalgia.

Ia berubah menjadi kompas.

Kompas yang mengarahkan kita pada demokrasi yang tegas dalam perbedaan, namun lembut dalam kemanusiaan.

“Persatuan bukan berarti seragam, melainkan kemampuan berjalan bersama meski langkah tidak selalu sama.”