Ragam Hoaks soal Motor Listrik Beredar di Media Sosial, Ini Daftarnya

Ragam Hoaks soal Motor Listrik Beredar di Media Sosial, Ini Daftarnya

Motor listrik kian populer sebagai alternatif kendaraan yang disebut lebih ramah lingkungan. Namun, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap teknologi ini, berbagai informasi keliru atau hoaks juga ikut beredar dan memicu kebingungan di masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.

Sejumlah narasi yang muncul di media sosial dinilai dapat menimbulkan keraguan hingga mendorong penolakan terhadap adopsi kendaraan listrik. Di antaranya, klaim yang menyebut adanya kewajiban penggunaan motor listrik, serta anggapan baterai motor listrik cepat rusak atau mahal sehingga kendaraan menjadi terbengkalai.

Berikut beberapa hoaks terkait motor listrik yang telah diidentifikasi dalam penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Klaim: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mewajibkan rakyat Indonesia menggunakan motor listrik

Cek Fakta Liputan6.com menemukan unggahan di Facebook pada 7 April 2026 yang memuat klaim bahwa Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mewajibkan rakyat Indonesia memakai motor listrik. Unggahan tersebut menampilkan foto wajah Bahlil dengan tulisan yang mengarah pada klaim tersebut.

Klaim: Foto barisan motor listrik mangkrak karena mahalnya baterai

Cek Fakta Liputan6.com juga mendapati klaim lain berupa foto yang disebut menampilkan barisan motor listrik mangkrak karena mahalnya baterai. Unggahan ini ditemukan di Facebook pada 1 Desember 2022.

Dalam unggahan tersebut, terlihat deretan benda berwarna kuning dengan dua roda, tempat duduk, dan kemudi. Foto itu disertai keterangan, “Saat di negara lain sudah acuh, di sini baru mau memulai.”

Selain itu, terdapat cuplikan cuitan dari Twitter yang berbunyi, “Electric ‘green’ scooters that have reached end of battery life. It’s too expensive to replace the battery, and too dangerous to dispose them, so they abandon them.” Narasi ini diterjemahkan sebagai: skuter listrik “hijau” yang masa pakai baterainya berakhir, terlalu mahal untuk mengganti baterai dan terlalu berbahaya untuk dibuang sehingga ditinggalkan.

Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat diimbau untuk memverifikasi setiap klaim yang diterima, terutama yang beredar di media sosial, agar tidak mudah terpengaruh isu yang tidak benar.