Serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang disertai penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (03/01) memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas kawasan Amerika Latin, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap Indonesia—terutama dari sisi energi dan geopolitik.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas memastikan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela dalam kondisi aman. Mengacu pada data agregat WNI yang tercatat di Perwakilan RI, jumlah WNI di Caracas tercatat 50 orang.
“Semua WNI dalam kondisi aman,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang. Ia menambahkan, KBRI Caracas segera mengabarkan adanya dentuman kuat di wilayah Caracas dan sekitarnya pada Sabtu (03/01) dini hari, serta mengimbau WNI tetap tenang dan dapat menghubungi KBRI bila memerlukan bantuan.
Pemerintah Indonesia juga menyampaikan sikap agar perlindungan warga sipil diutamakan. “Kepada seluruh pihak terkait untuk mengedepankan penyelesaian secara damai melalui langkah de-eskalasi dan dialog,” kata Yvonne. Ia turut menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Situasi di Caracas: pemadaman listrik dan layanan metro terhenti
Setelah rentetan dentuman dan ledakan di Caracas serta beberapa lokasi lain—termasuk La Carlota (lapangan udara militer di pusat kota) dan pangkalan militer utama Fuerte Tiuna—pemadaman listrik dilaporkan terjadi di sejumlah pemukiman sekitar. Serangan juga disebut terjadi di Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira, yang turut mengalami pemadaman listrik. KBRI Caracas mengonfirmasi kondisi tersebut.
“Di Negara Bagian Miranda dan Aragua mengalami pemadaman listrik di beberapa wilayah. Di Caracas, ada beberapa daerah yang terjadi pemadaman listrik seperti di wilayah Cumbres de Curomo dan wilayah Prados del Este,” ujar Yvonne.
Menurut keterangan yang sama, listrik di Cumbres de Curomo sudah kembali menyala sejak Minggu (4/1) sore waktu setempat, sementara Prados del Este masih padam. Layanan transportasi Metro juga terhenti hingga saat ini.
Meski begitu, aktivitas masyarakat di ibu kota mulai terlihat perlahan dibanding hari serangan, ketika Caracas dilaporkan senyap dan gelap karena pemadaman di berbagai titik dan kekhawatiran akan serangan lanjutan. Kementerian Luar Negeri menyebut kondisi di lapangan kini lebih kondusif, dan KBRI Caracas terus berkomunikasi dengan WNI untuk memastikan keselamatan mereka.
Di tengah situasi tersebut, sebagian pendukung Maduro melakukan aksi pada Minggu sore dan menyatakan tidak akan tunduk pada negara mana pun yang berniat menguasai Venezuela. Sementara itu, pihak oposisi disebut berhati-hati merespons penangkapan Maduro. Protokol keamanan ketat yang sempat diberlakukan pada Sabtu mulai longgar, sejumlah toko roti dan kedai kopi kembali buka, dan sebagian warga mulai berbelanja kebutuhan pokok untuk stok karena khawatir situasi memburuk secara mendadak.
Minyak Venezuela dan kekhawatiran dampaknya bagi Indonesia
Dosen senior Departemen Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, menilai serangan AS pada dasarnya mengincar pasokan minyak Venezuela. “Jadi, sekarang adalah era di mana interest in financial power diinterpretasi ulang oleh Trump. Venezuela akan diambil demi minyak dan emasnya, juga ada lithium di situ,” kata Suzie.
Dalam kacamata geopolitik, Suzie melihat Indonesia berpotensi menjadi “negara korban dalam skenario” yang terbentuk akibat dinamika tersebut. Ia menggambarkan pembagian dunia dalam tiga kategori: negara adidaya, negara yang tidak demokratis namun memiliki sphere of influence, serta negara yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan dua kategori sebelumnya. Menurutnya, Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam kategori ketiga.
Suzie juga menilai penguasaan AS atas aset minyak Venezuela dapat memperkuat dominasi Washington. Ia merujuk pernyataan Trump pasca serangan bahwa AS akan sangat terlibat dalam industri minyak di Venezuela. “Dia punya bantal berupa minyak ini,” ucap Suzie.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan Indonesia sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global karena berstatus pengimpor minyak. Namun, ia menilai lonjakan harga akibat peristiwa di Venezuela masih terbatas dalam jangka pendek.
Meski demikian, Faisal mengingatkan bahwa penguasaan AS terhadap Venezuela dalam jangka panjang dapat menempatkan negara itu sebagai salah satu pihak yang mendominasi sumber energi global. “Bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga tata kelola dan geopolitik global. Indonesia, secara tidak langsung, juga akan terdampak dalam jangka panjang,” ujarnya.
Faisal menjelaskan Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, meski perannya dalam produksi dan ekspor global tidak lagi signifikan dalam 20 tahun terakhir. “Karena mismanajemen dan infrastruktur yang menua, produksinya terus menurun. Yang besar saat ini adalah cadangannya, bukan produksinya,” kata Faisal.
Saat ini produksi minyak Venezuela sekitar 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1% produksi minyak global, dan separuhnya diekspor. Faisal menilai kondisi itu membuat situasi Venezuela tidak serta-merta mengguncang pasar minyak global, berbeda dengan perseteruan Iran-Israel yang pernah mendorong harga minyak hingga sekitar USD 80 per barel.
Namun, ia menilai langkah AS kerap berorientasi jangka panjang. Salah satu faktor kunci adalah kebutuhan AS terhadap minyak berat. Menurut Faisal, kilang di Texas dan Louisiana selama ini bergantung pada pasokan minyak berat dari Amerika Latin, termasuk Venezuela. Karena itu, meskipun AS surplus produksi minyak ringan, kebutuhan terhadap minyak berat dari luar tetap ada.
Jika penguasaan tersebut menguat, Faisal menilai AS berpeluang kembali mendominasi sektor energi global dan mengalihkan ketergantungan dunia dari minyak Timur Tengah, sekaligus menjadi kunci pasokan energi bagi Barat.
Relasi Indonesia-Venezuela: dari Non-Blok hingga sikap yang dijaga
Indonesia dan Venezuela memiliki hubungan diplomatik sejak 1959, ketika Presiden Soekarno masih menjabat. Soekarno disebut populer di sejumlah negara Amerika Latin, termasuk Venezuela, karena gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia Afrika yang diinisiasinya.
Suzie menyebut hubungan politik luar negeri Indonesia dan Venezuela pernah lekat sebagai sesama negara non-blok, tetapi berubah pada masa Orde Baru. “Sejak menjadi Orde Baru, tentunya mencoba untuk menjauh dari Chavez (Hugo Chavez) waktu itu. Chavez ini kan seperti Gaddafi yang anti-Amerika,” ujarnya.
Setelah Orde Baru berakhir, hubungan kedua negara kembali dekat. Pada Agustus 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengundang Presiden Venezuela Hugo Chavez ke Indonesia. Pada Oktober 2000, Gus Dur berkunjung ke Venezuela untuk menghadiri KTT OPEC di Caracas.
Namun, pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, relasi Indonesia-Venezuela kembali berjarak. Suzie menuturkan Indonesia saat itu membutuhkan impor minyak dengan harga murah, sementara Venezuela bersedia dengan syarat dapat berkunjung ke Indonesia. Menurut Suzie, hal itu tidak berlanjut.
Suzie juga menilai Indonesia tidak mengartikulasikan pandangannya terhadap Venezuela secara jelas, antara lain karena kebutuhan Indonesia terhadap dana dan investasi dari AS, termasuk dalam konteks tarik ulur tarif dagang. Meski hubungan perdagangan, kerja sama pariwisata, dan pendidikan—termasuk pertukaran beasiswa—tetap berjalan, Indonesia disebut berupaya menjaga sikap dalam merespons perkembangan terbaru di Venezuela.
Di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung, perhatian Indonesia saat ini tertuju pada keselamatan WNI di Venezuela dan perkembangan dampak jangka panjang terhadap energi serta peta geopolitik global.

