Banten, 22 Februari 2026—Tokoh pemuda Banten, Rifki Sukmawan, menilai Indonesia sedang menghadapi krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut muncul akibat akumulasi kebijakan yang dinilai semakin menjauh dari aspirasi masyarakat kecil.
Rifki mengatakan situasi ini terlihat dari respons pemerintah ketika menerima kritik. Ia menilai kritik kerap tidak dijawab dengan perbaikan, melainkan ditanggapi secara defensif. Dalam pandangannya, pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto menunjukkan jarak yang kian lebar dengan rakyat.
Ia juga menyoroti kebijakan strategis yang dinilai belum menyentuh persoalan mendasar, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan kerja, serta ketimpangan sosial yang melebar.
Selain itu, Rifki mengkritik arah komunikasi politik yang menurutnya lebih menekankan pencitraan dibanding substansi. Ia menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kerap disampaikan di berbagai forum, namun memunculkan pertanyaan di publik mengenai sejauh mana program itu mampu menjawab persoalan struktural bangsa.
“Rakyat butuh solusi komprehensif, bukan sekadar narasi tunggal yang diulang-ulang di setiap mimbar,” ujar Rifki.
Rifki turut merujuk kritik yang belakangan disampaikan sejumlah media nasional dan pengamat publik terhadap pemerintah. Kritik tersebut antara lain menyangkut minimnya keterbukaan dalam pengambilan keputusan strategis, kebijakan yang dinilai kurang partisipatif dan terburu-buru, lemahnya respons terhadap kritik masyarakat sipil, serta kesan bahwa regulasi tertentu lebih berorientasi mengamankan kekuasaan ketimbang melindungi rakyat.
Menurut Rifki, ketika kekuasaan makin sulit disentuh oleh rakyat kecil, demokrasi berada dalam ujian. Ia menegaskan demokrasi tidak berhenti pada kemenangan pemilu, melainkan menuntut kekuasaan tetap rendah hati dan terbuka terhadap koreksi.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa kritik bukan bentuk permusuhan. “Kita tidak anti pemerintah. Justru karena kita cinta negeri ini, kita wajib mengingatkan. Kritik adalah bentuk kepedulian, bukan permusuhan,” katanya.

