Putri Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti (Tutut Soeharto), menanggapi pro dan kontra di masyarakat terkait penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada ayahnya. Tutut menyampaikan pernyataan itu usai menghadiri agenda di Istana Negara, Jakarta, Senin, didampingi adiknya, Bambang Trihatmodjo.
Menurut Tutut, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam dinamika demokrasi. Ia menilai yang terpenting adalah melihat rekam jejak Soeharto sejak muda hingga wafat, termasuk perjuangannya bagi masyarakat dan bangsa.
Ia juga mengatakan keluarga tidak menyimpan dendam atau keberatan terhadap kritik yang muncul. Namun, Tutut mengingatkan agar perbedaan pendapat tidak disikapi secara ekstrem dan tetap menjaga persatuan.
Dalam kesempatan itu, Tutut menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Ia menilai keputusan tersebut lahir dari penilaian atas rekam jejak dan kontribusi Soeharto bagi pembangunan Indonesia, serta mempertimbangkan aspirasi masyarakat.
Menjawab pertanyaan mengenai alasan gelar tersebut belum diberikan pada masa pemerintahan sebelumnya, Tutut menyebut pemerintah saat itu mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat demi menjaga persatuan dan kesatuan. Ia menambahkan, menurutnya masyarakat kini semakin dewasa dan makin pintar.
Saat ditanya mengenai anggapan bahwa gelar Pahlawan Nasional dapat menghapus stigma terhadap Soeharto terkait isu korupsi dan pelanggaran HAM, Tutut menyatakan masyarakat dapat menilai sendiri. Ia menegaskan keluarga tidak merasa perlu membela diri karena, menurutnya, apa yang dilakukan Soeharto dapat dilihat.
Sebagai bentuk syukur atas penganugerahan gelar tersebut, keluarga berencana berziarah ke makam Soeharto di Astana Giribangun.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bidang perjuangan kepada almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto dari Provinsi Jawa Tengah. Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Dalam petikan informasi yang dibacakan di Istana Negara, disebutkan bahwa Soeharto menonjol sejak masa kemerdekaan, di antaranya saat menjadi wakil komandan BKR Yogyakarta dan memimpin pelucutan senjata di Jepang, Kota Baru pada 1945.

