Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan gereja untuk menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Penegasan itu disampaikan saat pembukaan Sidang ke-14 Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Pulau Ambon Utara di Gereja Pniel, Jemaat GPM Wayame, Minggu (15/3/2026).
Dalam sambutannya, Wattimena menyoroti tiga isu yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Ambon dan warga jemaat saat ini, yakni dampak geopolitik global, pelestarian lingkungan hidup, serta meningkatnya masalah sosial.
Terkait geopolitik, ia mengingatkan warga agar tidak terjebak dalam polarisasi akibat konflik di Timur Tengah. Menurutnya, dukungan berlebihan di media sosial terhadap pihak-pihak yang berkonflik berpotensi memicu ketegangan di tingkat lokal.
“Kita tidak ada urusan dengan mendukung salah satu pihak seperti mendukung klub sepak bola. Tugas kita adalah berdoa agar segera tercipta perdamaian, sehingga kita tidak terdampak oleh lonjakan harga minyak maupun gangguan distribusi pangan dunia,” kata Wattimena.
Untuk isu lingkungan, Wattimena menyampaikan Pemkot Ambon menggalakkan gerakan “TAMBAHAN” (Kota Ambon Bersih, Asri, Hijau, dan Nyaman). Ia juga memaparkan rencana pembangunan Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu (PPST) pada tahun ini dengan estimasi anggaran Rp11 hingga Rp15 miliar.
Ia menambahkan, mulai Juni 2026 Pemkot Ambon akan menerapkan tindakan tegas berupa denda Rp1 juta bagi warga yang membuang sampah sembarangan. Pemerintah, kata dia, membutuhkan dukungan gereja untuk membantu sosialisasi kebijakan tersebut. “Masyarakat cukup melakukan dua hal yaitu buang sampah pada tempatnya dan pada waktunya,” ujarnya.
Selain itu, Wattimena juga menyinggung masalah sosial di Ambon. Ia menyatakan keprihatinan atas meningkatnya jumlah anak jalanan, gelandangan, dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kota Ambon. Ia menyebut banyak anak jalanan merupakan anak asli daerah yang memilih meninggalkan rumah karena konflik keluarga.
“Banyak anak memilih tinggal di jalanan karena rumah tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman. Ini masalah bersama. Pendekatan Pembinaan Keluarga (Binakel) harus menjadi kunci bagi kita semua,” katanya.
Pembukaan sidang tersebut dihadiri Ketua MPH Sinode GPM Pendeta Sacharias Izaac Sapulette, Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Utara Pendeta R. Haliwela, serta Sekretaris Klasis GPM Pulau Ambon Utara Pendeta H. Siahay, MM. Hadir pula Majelis Pekerja Klasis (MPK) Pulau Ambon Utara periode 2025–2030, yakni Pendeta L.W. Laisila, Pendeta V.H. Maitimu, Pendeta Y. Tomatalla/S, Penatua Franky D.J. Tutuarima, Penatua J. Labetubun, Diaken L. Siahainenia, dan Penatua August Ernst Pattiselanno.
Sidang ke-14 Klasis GPM Pulau Ambon Utara diikuti 156 peserta yang terdiri dari 74 peserta biasa dan 82 peserta luar biasa. Di antaranya terdapat 65 orang dari unsur 17 jemaat.

