Sinopsis Film Horor "Juminten Edan": Kisah Perempuan Tunarungu yang Dihantui Trauma Masa Lalu

Sinopsis Film Horor "Juminten Edan": Kisah Perempuan Tunarungu yang Dihantui Trauma Masa Lalu

Film horor Indonesia kembali menghadirkan judul baru berjudul Juminten Edan, produksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production. Film ini dibintangi Dimas Aditya dan menempatkan karakter Juminten sebagai pusat cerita.

Juminten diperankan Meisya Amira. Ia digambarkan sebagai perempuan dengan disabilitas wicara dan hambatan pendengaran. Alih-alih menghadirkan tokoh utama perempuan yang digambarkan sempurna, film ini membangun sosok yang kompleks: menyimpan luka batin, trauma mendalam, serta rahasia masa lalu yang perlahan terungkap.

Keterbatasan komunikasi yang dimiliki Juminten menjadi elemen penting dalam membangun atmosfer mencekam. Emosi dan ketakutan tidak banyak disampaikan lewat dialog, melainkan melalui gestur, ekspresi, dan situasi yang menegangkan.

Cerita berkembang ketika Juminten memutuskan kembali ke pulau tempat ia dibesarkan setelah delapan tahun merantau. Ia pulang bersama suami dan anaknya dengan harapan memulai kehidupan yang lebih tenang. Kepulangannya semula disambut hangat oleh keluarga besar, menghadirkan suasana reuni yang penuh harapan.

Namun, ketenangan itu perlahan berubah. Keanehan mulai muncul sejak Juminten kembali menginjakkan kaki di pulau tersebut. Perilakunya menunjukkan tanda-tanda yang sulit dipahami, seolah ada sesuatu yang mengusik dirinya, disusul berbagai peristiwa ganjil yang meningkatkan rasa waswas.

Ketegangan memuncak saat kejadian-kejadian aneh terjadi baik ketika Juminten sadar maupun tidak. Dalam beberapa momen, ia tampak kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Situasi kemudian menjadi ancaman ketika tindakannya mulai membahayakan orang-orang terdekat, termasuk suami, anak, dan anggota keluarga lainnya.

Melalui konflik itu, Juminten Edan tidak hanya menawarkan horor secara visual, tetapi juga lapisan psikologis. Penonton diajak menelusuri misteri perubahan Juminten sekaligus memahami pergulatan batin yang ia alami, termasuk kaitan antara trauma masa lalu, kondisi personal, dan teror yang menghantui.

Meisya Amira menyebut peran Juminten sebagai tantangan besar karena harus menyampaikan banyak emosi tanpa banyak dialog. Ia mempersiapkan diri dengan mempelajari sinopsis, karakter, serta latar belakang Juminten secara mendalam.

“Untuk membangun emosi Juminten yang menyimpan trauma besar namun tidak banyak bicara, aku mulai dari proses persiapan yang cukup mendalam. Sebelum shooting dimulai, aku baca sinopsis secara menyeluruh, memahami karakter, serta mempelajari latar belakang dan backstory Juminten yang sudah dikasih ke aku. Ini membantu aku untuk mengenali akar emosi dan batin yang dimiliki oleh karakter tersebut,” ungkap Meisya Amira.

Selain Meisya Amira dan Dimas Aditya, film ini juga dibintangi Anne J Coto sebagai Salma, Kukuh Prasetyo sebagai Marlan, Deden Bagaskara sebagai Kadir, serta Bambang Oeban sebagai Kakek Juminten. Pemain lainnya meliputi Wina Marrino sebagai Farida, Sharon Jovian sebagai Saskia, Teguh Julianto sebagai Heri, Wanto Cacing sebagai Sidik, Feril Ali sebagai Manto Kecil, dan Maria Lituhayu sebagai Juminten Kecil.

Juminten Edan disutradarai Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 2026.