Wawasan Lingkungan dan Perubahan Iklim Global: Penyebab, Dampak, dan Indikator di Indonesia

Wawasan Lingkungan dan Perubahan Iklim Global: Penyebab, Dampak, dan Indikator di Indonesia

Wawasan lingkungan dipahami sebagai cara pandang atau pemahaman mengenai lingkungan yang disertai upaya untuk melindungi dan melestarikannya. Perlindungan lingkungan dinilai penting karena lingkungan merupakan rumah, sumber daya hidup manusia, memengaruhi aktivitas makhluk hidup, serta berperan dalam menjaga kesehatan ketika kondisinya bersih.

Dalam konteks masalah lingkungan, perubahan iklim menjadi salah satu isu utama. Fenomena ini dikaitkan dengan pemanasan global akibat meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Perubahan iklim global dari waktu ke waktu dapat dipengaruhi faktor alam maupun aktivitas manusia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang. Pergeseran tersebut dapat terjadi secara alami, namun sejak periode 1800-an aktivitas manusia disebut menjadi pendorong utama perubahan iklim.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan perubahan iklim mencakup berbagai aspek. “Termasuk peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, serta kenaikan permukaan air laut,” kata Dwikorita.

Selain peningkatan gas rumah kaca, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu, dan gas alam disebut sebagai penyebab lain yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim dilaporkan meluas, mulai dari peningkatan suhu hingga meningkatnya cuaca ekstrem seperti badai, banjir, dan kekeringan. Gangguan ekosistem juga menjadi perhatian, termasuk ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga memengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan. Contoh dampak sosial dan ekonomi yang disebut antara lain ketidakstabilan pangan serta kerugian infrastruktur, seperti kerusakan jalan, jembatan, bangunan, transportasi, dan jaringan listrik. Sementara pada aspek kesehatan, contoh dampaknya meliputi penyakit pernapasan, infeksi, hingga kehilangan hidrasi.

Di tingkat global, dunia sepakat untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global pada 1,5 derajat Celsius. Namun, disebutkan bahwa laju kenaikan suhu saat ini bergerak lebih cepat dan telah mencapai 1,45 derajat Celsius di atas suhu rata-rata masa praindustri.

BMKG mencatat laju kenaikan suhu di Indonesia mencapai 0,15 derajat Celsius per dekade. Lembaga ini juga menyebut bukti krisis iklim lainnya, yakni banyak negara yang terancam kekeringan dalam beberapa dekade ke depan.

Dampak perubahan iklim juga dilaporkan telah dirasakan di tingkat lokal. Menurut Taufik Wijaya (2023), masyarakat yang menetap di lahan basah Sungai Musi, Palembang, merasakan dampak dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya terkait kualitas air bersih. Perubahan pola cuaca dan curah hujan disebut membuat kualitas air di lahan basah Sungai Musi seluas tiga juta hektare kian memburuk, dengan kondisi yang mengalami kekeringan atau banjir ekstrem.