Banjir bercampur lumpur belakangan kerap terjadi di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, terutama saat hujan deras. Peristiwa tersebut dilaporkan sempat merendam sejumlah rumah warga dan merusak pagar pembatas sungai.
Wali Kota Batu Nurochman melakukan susur sungai untuk menelusuri penyebab banjir. Dari hasil peninjauan di lapangan, ditemukan alih fungsi lahan di beberapa titik yang dinilai memicu luapan air bercampur lumpur.
Menurut temuan tersebut, kawasan yang sebelumnya berupa hutan atau perkebunan apel kini banyak berubah menjadi lahan sayuran. Selain itu, masih ditemukan praktik pertanian yang belum menerapkan teknik konservasi tanah secara optimal, seperti terasering atau guludan yang sesuai. Pemerintah Kota Batu juga menyatakan terjadi kerusakan tata kelola lahan di wilayah hulu.
Nurochman menginstruksikan langkah konkret untuk memulihkan fungsi konservasi di kawasan hulu Bumiaji dengan tujuan memutus siklus banjir luapan Sungai Krecek. Ia menekankan penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada perbaikan saluran di hilir, melainkan perlu menyasar sumber masalah di hulu.
“Penanganan bencana tidak boleh hanya fokus pada perbaikan saluran di hilir, tetapi harus menyentuh akar permasalahan di hulu,” kata Nurochman, Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan data lapangan, banjir yang melanda kawasan Tulungrejo dan Punten pada 30 Maret 2026 dipicu alih fungsi lahan hutan seluas 109,188 hektar menjadi pertanian hortikultura semusim. Tingginya sedimentasi yang disebut mencapai 97.107 meter persegi per tahun akibat erosi tanah di lahan miring juga dinilai menjadi faktor utama pendangkalan sungai, yang berisiko terhadap keselamatan masyarakat dan infrastruktur.
Dalam langkah penanganan, Nurochman menyatakan Pemkot Batu tidak ingin petani kehilangan mata pencaharian. Namun, ia mengajak petani untuk bertransformasi menuju pola tanam yang lebih ramah lingkungan.
“Kami akan memfasilitasi petani di hulu untuk beralih ke tanaman tegak yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti kopi dan kakao. Fungsi konservasi lahan kembali pulih karena akar tanaman tegak mampu mengikat tanah dan mencegah erosi, sementara petani tetap memiliki penghasilan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Selain transformasi pola tanam, Wali Kota juga mengarahkan pengetatan tata ruang. Ia menginstruksikan dinas terkait melakukan audit menyeluruh terhadap izin usaha di wilayah rawan bencana, termasuk evaluasi teknis pada bangunan komersial yang dinilai berisiko tinggi.

