BEM Psikologi USU Soroti Tuntutan 17+8 dalam Forum Diskusi Agora Daras

BEM Psikologi USU Soroti Tuntutan 17+8 dalam Forum Diskusi Agora Daras

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) menyoroti tuntutan 17+8 yang dinilai belum sepenuhnya diakomodasi pemerintah dalam forum diskusi publik bertajuk Agora Daras: “Peka Politik, Peka Masa Depan: Saatnya Kampus Bicara 17+8”. Kegiatan berlangsung di Ruang Serbaguna Fakultas Psikologi USU, Kamis (18/9) pukul 16.00 WIB, dan diikuti sekitar 40 peserta.

Melalui forum ini, BEM Psikologi USU menyatakan ingin melatih mahasiswa agar aktif berdialektika sekaligus mendorong advokasi isu-isu strategis ke ruang yang lebih luas. Kepala Bidang Kajian Strategis dan Advokasi (Kastrad) BEM Psikologi USU, Ahmad Raihan Adillah, menyebut kegiatan tersebut diharapkan dapat berkembang pada kepengurusan berikutnya. Ia menilai skala forum bisa diperbesar, misalnya menghadirkan panggung orasi dengan narasumber yang lebih beragam.

Diskusi menghadirkan dua narasumber utama. Narasumber pertama, Warjio, M.A., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU, memaparkan pentingnya respektivitas politik yang menurutnya perlu dimulai dari lingkungan rumah tangga hingga ranah global. Ia menekankan rumah sebagai titik awal pembentukan sikap politik, lalu berlanjut pada institusi seperti sekolah dan perguruan tinggi. Warjio juga menyinggung keterkaitan fenomena politik dengan isu-isu global.

Narasumber kedua, Menteri Koordinator Pergerakan BEM USU, Akhmad Bukhori Pane, menekankan pentingnya menjaga konsistensi gerakan mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa kepekaan politik tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam sejarah pergerakan. Bukhori juga menegaskan gerakan mahasiswa tidak hanya berfokus pada kritik terhadap kebijakan, tetapi turut berupaya memberi arah agar kebijakan publik berpihak pada rakyat.

Di akhir pemaparannya, Bukhori memperkenalkan gagasan “RESET INDONESIA” sebagai seruan moral mahasiswa terhadap kondisi bangsa. Ia menyampaikan ajakan untuk melakukan “reset” dan menyerahkan poster bertuliskan “RESET INDONESIA” kepada BEM Psikologi USU.

Sebelumnya, acara dibuka dengan sambutan Ketua BEM Fakultas Psikologi USU, Ravel Nathan. Ia menekankan pentingnya kesadaran politik mahasiswa serta urgensi menjadi pribadi yang peka terhadap isu dan kondisi negara. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran melanjutkan pergerakan dan perjuangan, serta setiap tindakan perlu memiliki kebermanfaatan.

Agora Daras merupakan rebranding dari program Ngobrol Politik (Ngopi) yang sempat vakum pada periode sebelumnya. Raihan menjelaskan, nama Agora Daras diambil dari kata “agora” dalam bahasa Yunani yang berarti tempat berkumpul, serta “daras” dalam bahasa Arab yang berarti belajar. Ia menyebut penggabungan keduanya dimaknai sebagai ruang bagi orang-orang untuk berkumpul, belajar, dan mencari ilmu. Tujuan utama forum ini, kata Raihan, adalah membuka cakrawala mahasiswa Psikologi dan mendorong mereka mengadvokasikan hal-hal yang dianggap urgen kepada pihak terkait, sehingga diskusi tidak berhenti pada percakapan, tetapi memiliki arah yang jelas.