Menjelang akhir Desember 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui informasi cuaca di sekitar Indonesia di tengah aktifnya musim hujan. Selain sistem Siklon Tropis Grant, BMKG mendeteksi bibit siklon tropis berkode 96S di perairan Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara. Keberadaan sistem ini dinilai perlu dipantau karena berpotensi memengaruhi pola cuaca dalam beberapa hari ke depan, meski peluangnya berkembang menjadi siklon tropis kuat masih rendah.
Bibit Siklon Tropis 96S terpantau sejak sekitar 24 Desember 2025 pukul 18.00 UTC (01.00 WIB) di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan data BMKG, sistem tersebut memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau sekitar 28 kilometer per jam, dengan tekanan udara di sekitar pusatnya sekitar 1008 hPa. Meski belum menunjukkan struktur yang kuat, bibit ini dapat membentuk sirkulasi angin dan kumpulan awan konvektif yang memengaruhi cuaca di wilayah sekitarnya.
Dalam meteorologi tropis, bibit siklon merujuk pada gangguan cuaca di lautan yang berpotensi berkembang menjadi siklon tropis yang lebih kuat. Ciri utamanya berupa kumpulan awan besar dan sirkulasi angin yang mulai terbentuk di atas permukaan laut hangat. Tidak semua bibit akan berkembang menjadi siklon tropis, namun ketika terpantau, pemantauan intensif dilakukan untuk melihat kemungkinan penguatan maupun pelemahan sistem.
BMKG menekankan bahwa bibit siklon dapat memicu cuaca ekstrem secara tidak langsung, meskipun belum menjadi siklon tropis penuh. Dampak awal yang mungkin muncul antara lain hujan lebat, sebaran awan tebal yang luas, serta perubahan pola angin akibat sirkulasi yang terbentuk di sekitar sistem.
Menurut perkiraan BMKG, peluang Bibit Siklon Tropis 96S untuk berkembang menjadi siklon tropis kuat dalam 24 jam ke depan masih rendah. Namun, keberadaannya tetap dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif, termasuk awan cumulonimbus yang berpotensi membawa hujan lebat disertai angin kencang, terutama di kawasan Nusa Tenggara dan sekitarnya.
Selain itu, bibit siklon dapat membentuk daerah pertemuan angin (konvergensi) di sekitarnya. Kondisi ini dapat memperkuat pembentukan awan hujan yang intens sehingga sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan lebat atau badai lokal yang datang tiba-tiba. BMKG juga mencatat bibit siklon dapat memicu area tekanan rendah yang menjadi salah satu faktor pendukung hujan ekstrem di wilayah yang lebih luas.
Dampak lain yang diwaspadai adalah peningkatan tinggi gelombang dan kondisi angin di perairan selatan pulau-pulau besar Indonesia, terutama perairan selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Masyarakat yang beraktivitas di laut, termasuk nelayan dan operator perkapalan, diimbau memperhatikan pembaruan informasi gelombang tinggi dari BMKG karena bibit siklon, meski lemah, dapat berkontribusi pada terbentuknya gelombang yang lebih besar dari biasanya.
BMKG menegaskan kemunculan bibit siklon seperti 96S tidak serta-merta berarti bencana langsung akan terjadi di daratan. Meski peluang penguatannya rendah dalam waktu dekat, masyarakat diminta tidak lengah karena perubahan cuaca dapat terjadi signifikan, terutama pada periode musim hujan.
Warga di wilayah yang berpotensi terdampak, seperti Jawa, Bali, NTB, NTT, dan sekitarnya, diimbau rutin memantau prakiraan cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG, akun media sosial BMKG, dan laman BMKG yang memuat pembaruan berkala. Kesiapsiagaan juga tetap diperlukan untuk mengantisipasi dampak tidak langsung seperti hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mengambil langkah-langkah kewaspadaan saat potensi cuaca ekstrem meningkat, seperti memperbarui informasi cuaca harian sebelum bepergian atau beraktivitas di luar ruang, memastikan perlengkapan keselamatan bagi warga pesisir yang bekerja di laut, serta menyiapkan rencana darurat di wilayah rawan banjir. Upaya sederhana seperti membersihkan saluran air di sekitar rumah dapat membantu mengurangi risiko genangan ketika hujan lebat turun mendadak.
Fenomena siklon tropis maupun bibit siklon merupakan bagian dari dinamika cuaca global yang dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk suhu permukaan laut dan pola angin. Dengan posisi Indonesia di wilayah tropis, pemantauan dan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca tetap diperlukan karena cuaca ekstrem dapat terjadi secara tiba-tiba.

