Peredaran informasi palsu di media sosial kembali mencuat di tengah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang disebut mulai memasuki masa gencatan senjata. Kali ini, warganet diramaikan oleh sebuah tangkapan layar yang diklaim sebagai unggahan Presiden AS Donald Trump.
Dalam gambar tersebut, Trump seolah menyebut rakyat Indonesia sebagai bangsa yang “munafik” karena dinilai memberikan dukungan kepada Iran dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari 40 hari. Teks pada tangkapan layar itu juga menyinggung komposisi mayoritas warga Indonesia yang beragama Sunni, serta meniru gaya bahasa Trump.
Unggahan yang beredar luas di Facebook itu dilaporkan mengumpulkan sekitar 11 ribu tanda suka dan memantik perdebatan di kolom komentar. Sejumlah respons warganet bahkan bernada provokatif.
Namun, pemerintah menyatakan klaim tersebut tidak benar. Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah melalui akun Instagram resmi @cekfakta.ri menegaskan narasi dalam tangkapan layar itu tidak memiliki dasar dan tidak ditemukan adanya pernyataan resmi Donald Trump seperti yang diklaim.
“Konten ini merupakan disinformasi yang menyesatkan dan berpotensi memicu perpecahan, padahal tidak ada cuitan resmi seperti yang beredar,” tulis @cekfakta.ri dalam unggahan klarifikasinya.
Penelusuran juga dilakukan terhadap akun Truth Social milik Trump. Hasilnya, tidak ditemukan unggahan yang sesuai dengan isi tangkapan layar viral tersebut.
Selain itu, tangkapan layar yang beredar dinilai janggal karena tidak memuat tanggal unggahan maupun rincian interaksi seperti jumlah reaksi, pembagian (share), dan tanda suka yang umumnya tercantum pada unggahan resmi di media sosial.
Berdasarkan rangkaian verifikasi tersebut, tangkapan layar yang mengklaim Trump mengecam rakyat Indonesia dipastikan sebagai hoaks dan masuk kategori disinformasi. Tidak ada bukti valid, baik dari akun media sosial resmi Trump maupun catatan diplomatik, yang mendukung klaim itu.
Masyarakat diimbau lebih waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memicu sentimen sektarian dan kebencian, terutama di tengah situasi geopolitik yang memanas. Publik juga diajak untuk lebih kritis agar tidak terjebak disinformasi.

