Delapan Isu Sosial yang Disorot Drakor Cashero, dari Kapitalisme hingga Kemiskinan Struktural

Delapan Isu Sosial yang Disorot Drakor Cashero, dari Kapitalisme hingga Kemiskinan Struktural

Drama Korea Cashero tidak hanya mengandalkan cerita tentang pahlawan super dan pertarungan melawan villain. Di balik premisnya, serial ini menyinggung sejumlah persoalan sosial yang dekat dengan realitas, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga dinamika keluarga. Berikut delapan isu sosial yang muncul dalam Cashero.

1. Kapitalisme
Gambaran kapitalisme tampak dari premis kekuatan tokoh utama, Kang Sang Ung. Meski memiliki kemampuan super, ia harus “membayar” dengan uang pribadinya setiap kali menggunakan kekuatan tersebut, sehingga isi dompetnya terkuras. Dalam cerita, uang digambarkan sebagai faktor penentu kekuasaan dan kemampuan bertindak. Saat tidak punya uang, Sang Ung menjadi tidak berdaya, sementara pihak musuh digambarkan dapat memakai uang tanpa batas untuk menjalankan aksi kejahatan.

2. Inflasi
Cashero juga menampilkan bagaimana nilai uang menyusut seiring inflasi. Kekuatan super diwariskan turun-temurun di keluarga Kang Sang Ung. Setiap kali kekuatan dipakai, uang tunai yang mereka pegang akan hilang dan diganti dengan uang kembalian. Namun, jumlah kembalian itu semakin berkurang dari tahun ke tahun, menggambarkan penurunan nilai uang.

3. Kesulitan membeli rumah
Serial ini menyinggung persoalan generasi muda yang kesulitan membeli dan memiliki rumah sendiri. Faktor seperti inflasi, keterbatasan lahan, dan harga tanah yang meroket—terutama di kota besar—menjadi latar yang ikut mewarnai kisah Kang Sang Ung dan Kim Min Suk (Kim Hye Jun).

4. Kemiskinan struktural
Kang Sang Ung digambarkan mengalami kemiskinan struktural, yakni kondisi ketika banyak faktor membuat seseorang sulit lepas dari status miskin, termasuk situasi keluarga. Saat kecil, keluarganya bangkrut akibat krisis IMF. Ibunya kemudian bekerja kasar, sedangkan ayahnya menghabiskan uang untuk menolong orang. Meski Sang Ung tumbuh dewasa dan menjadi PNS, ia tetap digambarkan berada dalam kategori miskin, terlebih karena uangnya kerap habis setiap kali kekuatan supernya digunakan.

5. Gejala psikosomatis
Isu psikosomatis muncul lewat kondisi kesehatan Sang Ung. Ia digambarkan mengalami psoriasis ketika menolak memakai kekuatan supernya untuk membantu orang. Kondisi serupa pernah dialami ayahnya saat masih aktif sebagai superhero. Penyakit itu digambarkan mereda ketika mereka kembali menolong orang lain, menautkan gangguan fisik dengan tekanan psikologis dan rasa bersalah.

6. Narkoba
Bahasan narkoba turut disinggung melalui kelompok villain bernama Mundane Vanguard. Kelompok ini memburu manusia super untuk mengambil kekuatan mereka. Salah satu tujuan perburuan itu adalah mengembangkan obat terlarang varian baru, yang disebut memiliki efek halusinasi kuat sekaligus mematikan.

7. Fenomena fatherless
Cashero juga mengangkat fenomena fatherless, yakni anak yang tumbuh tanpa pendampingan peran dan perhatian ayah meski bukan yatim. Dalam latar belakang tokoh utama, Kang Sang Ung dikisahkan tidak dekat dengan ayahnya karena menganggap sang ayah tidak hadir di momen penting hidupnya. Ayahnya digambarkan jarang pulang, tidak bekerja, mengabaikan keluarga, dan menghabiskan uang. Belakangan, terungkap bahwa perilaku itu berkaitan dengan kesibukan sang ayah menolong orang sebagai superhero.

8. Sibling rivalry
Isu persaingan saudara atau sibling rivalry ditampilkan lewat kisah Jo Anna (Kang Hanna) dan Jo Nathan (Lee Chae Min). Persaingan mereka tidak hanya terkait perebutan posisi pewaris Grup Beomha, tetapi juga berkembang menjadi kebencian yang berujung kekerasan. Diceritakan Jo Anna pernah menembak Jo Nathan saat kecil, dan pada akhir cerita Jo Nathan membalas dengan menembak mati kakaknya.

Dengan memasukkan isu-isu tersebut, Cashero menghadirkan cerita yang tidak semata berfokus pada aksi, tetapi juga menyentuh persoalan sosial yang kerap ditemui di dunia nyata, dari kapitalisme, inflasi, dan krisis hunian, hingga dinamika keluarga dan kejahatan narkoba.